
KUNINGAN(VOX) – Bupati Kuningan menegaskan bahwa seni dan budaya bukan sekadar tontonan atau hiburan, melainkan ruang perenungan kolektif yang mencerminkan jati diri, sejarah, serta aspirasi masyarakat Kuningan. Hal itu disampaikan dalam acara seni budaya yang digelar di gedung kesenian raksawacana pada Sabtu (24/1/2026) malam.
Dalam sambutannya, Bupati Kuningan membuka acara dengan menyapa sejumlah tamu undangan, di antaranya Ibu Anisa Rengganis, Staf Khusus Menteri Kebudayaan RI Bidang Diplomasi Budaya dan Hubungan Internasional. Turut hadir pula Asep Budi setiawan (Kepala Dinas Pemuda,olahraga,dan pariwisata), Purwadi hasan (PLT.Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan), Dr. Bias Lintang Dialog dari Yayasan Teater Sado, Kang Yusuf Oblek, Kang Deni dari Republik Sendal Jepit, serta para seniman, kepala sekolah, dan guru se-Kabupaten Kuningan.
Bupati menekankan bahwa pertemuan ini tidak dimaksudkan sekadar untuk menikmati pertunjukan, tetapi menjadi arena refleksi bersama tentang identitas dan perjalanan budaya Kuningan.
“Seni adalah cara manusia berbicara kepada zamannya. Ia bukan hanya hiburan, tetapi bahasa batin masyarakat untuk menyampaikan kegelisahan, harapan, dan cita-cita,” ujar Bupati.
Ia juga mengapresiasi Yayasan Teater Sado yang sejak berdiri pada tahun 1997 konsisten berkontribusi dalam pengembangan seni dan budaya di Kuningan melalui berbagai program kreatif dan reflektif.

Bupati turut mengenang masa kecilnya yang lekat dengan pertunjukan seni budaya tradisional. Menurutnya, acara semacam ini menjadi pengobat rindu sekaligus pengingat bahwa budaya bukan sekadar arsip masa lalu.
“Budaya harus menjadi spirit hidup sehari-hari, bukan hanya cerita nostalgia atau dokumentasi,” katanya.
Dalam pidatonya, Bupati menyoroti sejarah penting angklung di Kuningan, termasuk peran daerah ini dalam peralihan sistem nada dari pentatonis ke diatonis. Ia menyayangkan potensi besar tersebut belum dimanfaatkan secara maksimal.
“Daerah lain bisa menjadikan angklung sebagai sumber kesejahteraan. Kita punya sejarah kuat, tapi justru kurang mengelolanya,” ungkapnya.
Ia pun mengajak Dinas Pemuda, Olahraga,dan Pariwisata serta komunitas seni untuk kembali menghidupkan kesenian seperti keslum dan kokangklung polosan yang pernah digagas sebelumnya.
Bupati menegaskan bahwa budaya tidak akan mati karena perkembangan zaman, melainkan karena dilupakan oleh generasinya sendiri. Oleh karena itu, komunitas seni dinilai memegang peran penting sebagai penjaga ingatan kolektif masyarakat.
Pesan khusus juga dititipkan kepada Dr. Bias Lintang Dialog agar terus menjaga api kebudayaan di Kuningan dan menularkannya kepada generasi muda.
“Anak-anak muda harus mencintai budaya lokal bukan karena kewajiban, tapi karena kebanggaan,” tegasnya.
Menutup sambutannya, Bupati menyampaikan bahwa Pemerintah Kabupaten Kuningan membutuhkan sinergi, idealisme, dan keberanian para seniman serta budayawan untuk menciptakan ruang budaya yang hidup dan bernyawa.
“Kerja budaya tidak cukup administratif. Ia harus menghadirkan ruang hidup bagi seni,” pungkasnya.
Bupati pun menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut.***












Tinggalkan Balasan