Oleh: Ariel Valeryan

KUNINGAN(VOX) – Bagi segelintir orang, desa adalah tanah pertama yang mereka pijak, kehidupan pertama yang mereka mulai. Maka desa dapat dikatakan sebagai titik awal pemberangkatan dalam menghadapi kehidupan sebagai manusia sosial. Namun Desa, sebagai salah satu aspek paling berperan dalam mendorong kemajuan sebuah daerah kerap menjadi suatu hal yang dilupakan. Desa yang seharusnya menjadi pondasi dasar dalam menunjang keberhasilan sebuah sistem otonomi daerah, justru seolah di anak tirikan.

Tempo hari pada tanggal 15-16 Februari 2026, Komunitas Seni Manusia-Manusia Tanah Subur menggelar sebuah pertunjukan Mini Esai Performatif yang bertajuk “Desa Kami”. Pertunjukan ini adalah sebuah pertunjukan yang menjadikan esai sebagai bagian dari media pertunjukan lalu ditransformasi menjadi peristiwa panggung. Pertunjukan yang berdurasi kurang lebih 40 menit ini, dipentaskan di Balai Dusun Cibunut, Desa Cirukem, Kecamatan Garawangi, Kab. Kuningan, Jawa Barat. Kehadiran pertunjukan ini membawa kesegeran bagi wilayah-wilayah setempat dan warga sekitar yang selama ini kehilangan ruang-ruang hiburan dan bertukar pikiran.

Pertunjukan Mini Esai Performatif “Desa Kami” karya dan sutradara Ariel Valeryan, yang dimainkan oleh Manda Dwi Febriyani, Icha Kartika Ningsih, Raka Danuarta, Padli Fadilah, Ferdi Nur Rizki Pramadani, dan Ariel V sebagai para pelaku/aktor ini, berangkat dari persoalan-persoalan sosial yang tumbuh dan hadir di tengah-tengah masyarakat Desa di pesisir Kabupaten Kuningan. Khususnya di Kecamatan Garawangi, Kecamatan Ciniru, dan Kecamatan Hantara. Ketika minimnya penerangan jalan umum, akses transportasi yang kurang baik (jalan berlubang kerap menjadi kendala setiap tahun, bulan, minggu bagi masyarakat Desa), lalu subsidi atau bantuan sosial yang sering kali tidak tepat sasaran.

Persoalan-persoalan itulah yang kemudian diriset dan kemudian ditulis menjadi esai dan ditransformasi menjadi Pertunjukan Mini Esai Performatif “Desa Kami”. Sebuah realitas pahit yang ada dan tumbuh di sela-sela kehidupan masyarakat Desa namun tidak pernah menjadi sebuah perbincangan di ruang-ruang publik. Maka pertunjukan ini hadir sebagai refleksi dan pelantang dari persoalan kolektif masyarakat pedesaan di Kabupaten Kuningan. Karena Seni sepatutnya tidak mucul hanya sebagai hiburan semata. Namun seni pertunjukan pun dapat menjadi media pengejawantahan suara-suara yang selama ini terpendam; ditelan kekuasaan para pemangku kebijakan.

Pertunjukan Mini Esai Performatif “Desa Kami” hadir sebagai bagian dari upaya menghidupkan kembali ruang-ruang publik dalam skala Desa. Memberikan sebuah hiburan sekaligus memantik daya kritis dan sebagai media penyadaran bagi masyarakat serta kaum terpelajar yang tinggal di desa-desa. Dengan harapan dapat lebih terbuka dan peduli terhadap segala macam problematisasi yang ada di desa. Selain dari pada itu pertunjukan ini pun menjadi media kritik bagi pemerintahan setempat yang terlalu senang hidup “di bawah meja”, namun luput membuka mata terhadap segala macam permasalahan yang hadir di Desa-desa.

Padahal hal yang bersifat elementer, yang perlu kita ketahui adalah bahwa; Pembangunan masyarakat pedesaan merupakan bagian penting dari perwujudan pembangunan otonomi daerah dalam rangka pemerataan pembangunan dan menjamin kesejahteraan masyarakat (Almasari, Deswimar., 2014). Namun kenyataanya ketika pusat kota sibuk didandani, desa justru kehilangan wajahnya sendiri.

Mengutip sebuah kalimat yang disampaikan Bung Hatta (Wakil Presiden Pertama Indonesia) bahwa; “Indonesia tidak akan bercahaya karena obor besar di Jakarta, tapi akan bercahaya karena lilin-lilin di desa.” Maka secara kesimpulan desa pun patut turut ambil bagian bagi kemajuan sebuah negara, karena kemajuan tidak hanya diukur dari seberapa menterengnya kota, namun juga tentang seberapa berhasilnya desa sebagai pondasi. Pertunjukan Mini Esai Performatif “Desa Kami” diharapkan dapat meretas hal-hal tersebut, dan menjadikan desa sebagai ruang bertumbuh ke arah yang lebih baik, dan berkeadilan.

Daftar rujukan:

Deswimar, Devi. “Peran Program Pemberdayaan Masyarakat desa dalam pembangunan pedesaan.” Jurnal El-Riyasah 5.1 (2014): 41-52.***