KUNINGAN, (VOX) – Laporan seorang warga berinisial AAR membuka tabir dugaan hubungan gelap seorang ASN berinisial S, yang merupakan ayah sambungnya dan suami kedua almarhum YH. Laporan tersebut tidak hanya menyebut soal perselingkuhan, tetapi memperlihatkan rangkaian bukti chat yang isinya terlalu cabul untuk diucapkan oleh seorang pejabat pendidikan, terlebih saat istrinya tengah berjuang melawan sakit.
Dalam laporan tertulisnya, AAR menyerahkan tangkapan layar percakapan yang menunjukkan bagaimana S dengan santainya mengirim foto pribadi tidak pantas, merayu perempuan lain dengan kalimat bernada seksual, dan meminta pose-pose sensual layaknya pria yang sama sekali tidak memiliki tanggung jawab moral. Saat chat itu berlangsung, ibu AAR sedang terbaring lemah di RS Hasan Sadikin Bandung. Fakta ini membuat AAR menyebut perilaku S sebagai “pengkhianatan paling rendah yang bisa dilakukan seorang suami”.
Tidak berhenti di situ. AAR mengungkap bahwa pada salah satu malam, S meninggalkan istrinya sendirian di sebuah kos Pasir Kaliki Bandung dalam kondisi sakit parah lalu memilih pulang ke Kuningan. Berbeda dengan sikap yang seharusnya ditunjukkan seorang pasangan saat krisis, bukti chat justru memperlihatkan S tampak lebih sibuk mengejar-ngejar perempuan lain ketimbang menjaga istrinya sendiri.
AAR menilai tindakan itu tidak hanya melukai keluarga, tetapi juga mempermalukan profesi ASN yang seharusnya menjadi panutan. Menurutnya, “jika bukti chat dilihat siapa pun, sulit mempercayai bahwa itu dikirim oleh seseorang yang memegang jabatan publik dan disebut seorang pendidik”.
Problem keluarga makin meruncing ketika S diduga menolak menandatangani dokumen-dokumen penting, yang mengakibatkan pencairan Asuransi BJB, UDW, dan Taspen almarhum terhenti total. AAR mengaku keluarga sudah membuka pintu penyelesaian baik-baik pada 4-5 November 2025, namun S tidak menunjukkan itikad kooperatif. “Kami sudah coba cara baik-baik, tapi yang bersangkutan justru menghilang dan menghindar,” kata AAR dalam laporannya.
AAR berharap instansi terkait tidak tinggal diam. Menurutnya, bukti yang ia miliki cukup membuat publik bertanya-tanya bagaimana mungkin seorang ASN, terlebih seorang kepala sekolah, bisa bersikap seperti itu di saat istrinya sendiri sedang berada di ambang hidup dan mati.
Hingga berita ini tayang, Vox telah mencoba menghubungi S, yang diketahui menjabat sebagai salah satu kepala sekolah SD Negeri di Kecamatan Ciawigebang. Pesan, panggilan, dan permintaan klarifikasi yang dikirim Vox tidak mendapatkan balasan sama sekali.***




Tinggalkan Balasan