
KUNINGAN(VOX) – Kematian ratusan ikan dewa di Balong Girang Cigugur memicu kekhawatiran masyarakat. Hingga laporan terakhir, sedikitnya 305 ekor ikan dilaporkan mati dalam waktu 7 hari, diduga akibat terganggunya habitat alami, irigasi yang tidak berfungsi, serta penutupan sumber mata air alami.
Dari perwakilan masyarakat, keberadaan sumur alami dinilai menjadi kunci keseimbangan ekosistem balong. Warga menyebut, sejak sumur alami tertutup dan aliran air terganggu, kondisi air menjadi stagnan dan kadar oksigen menurun drastis.
“Selama puluhan tahun, bahkan hampir 30 tahun balong ini tidak pernah dikuras, tapi ikan tetap hidup karena air alami terus mengalir dan menjaga kualitas air. Warga melihat perubahan mulai terasa saat sumur alami ditutup. Aliran air melemah, air menjadi lebih keruh dan tidak lagi segar seperti dulu. Dalam kondisi seperti itu, dampak dari perubahan lingkungan yang dibiarkan terjadi,” ujar salah satu perwakilan warga setempat, Rabu (04/01/2026).
Selain faktor sumur alami, masyarakat juga menyoroti sistem irigasi yang tidak berjalan optimal serta adanya bangunan cor yang dinilai menghambat aliran air masuk ke kolam. Kondisi ini memperparah kualitas air dan mempercepat kematian ikan.
Sebagai langkah awal, masyarakat sempat mencoba penanganan tradisional menggunakan daun kenikir. Namun, upaya tersebut belum mampu menekan angka kematian ikan secara signifikan.

Masyarakat kini mendesak pemerintah daerah segera mengembalikan fungsi sumur alami sebagai sumber oksigen dan aliran air utama. Selain itu, warga juga meminta dilakukan pengerukan kolam untuk mengatasi pendangkalan serta perbaikan sistem irigasi melalui koordinasi lintas instansi, termasuk dengan PUPR.
Pakar tata kelola air yang dilibatkan dalam kajian turut merekomendasikan perbaikan sistem aliran air dan pemulihan sumber mata air alami sebagai solusi jangka panjang. Masyarakat berharap langkah cepat dan konkret dapat segera dilakukan untuk menyelamatkan ekosistem balong sekaligus menjaga nilai sejarah dan kearifan lokal yang melekat pada keberadaan ikan keramat tersebut.***











Tinggalkan Balasan