
KUNINGAN, (VOX) – Kecamatan Maleber disiapkan menjadi sentra peternakan sapi di Kabupaten Kuningan. Camat Maleber, H. Diding Wahyudin, S.Pd., M.Si., menggagas konsep Kampung Ternak hingga pembangunan pusat pasar hewan untuk mendorong peningkatan ekonomi masyarakat.
Menurut Diding, Kecamatan Maleber memiliki potensi besar dari sisi luas wilayah, sumber daya masyarakat, hingga ketersediaan pakan ternak yang melimpah.
“Di Kecamatan Maleber itu ada tipologi desa. Wilayah dataran lebih orientasi kepada pertanian, sedangkan wilayah pegunungan lebih orientasi kepada peternakan,” ujarnya dalam wawancara di kantornya, Jumat (08/05).
Ia menjelaskan, sejumlah desa akan diarahkan menjadi Kampung Ternak, di antaranya Desa Padamulya, Mekarsari, Galaherang, Garahaji, Cipakem hingga Giriwaringin.
Menurutnya, desa-desa tersebut memiliki keunggulan berupa luas wilayah dan sumber pakan yang memadai sehingga sangat potensial untuk pengembangan peternakan sapi berbasis pembibitan atau breeding.

“Langkah awal yang akan kita lakukan adalah mengembalikan mindset masyarakat yang tadinya lebih orientasi kepada penggemukan, sekarang kita arahkan kembali kepada breeding,” katanya.
Diding menyebut kebutuhan pedet sapi di wilayah selatan dan timur Kabupaten Kuningan masih sangat tinggi. Bahkan, kebutuhan pedet setiap tahun diperkirakan mencapai sekitar 2.000 ekor.
“Sekarang pengisiannya bukan dari Kuningan, tapi dari Tasik dan wilayah Jawa lainnya. Ini peluang besar untuk masyarakat Maleber,” jelasnya.
Selain fokus pada pembibitan sapi, Maleber juga direncanakan memiliki pusat pasar hewan sendiri. Menurut Diding, keberadaan pasar hewan di Maleber akan memangkas biaya transportasi peternak yang selama ini harus menjual sapi ke Ciwaru atau Luragung.
“Kalau pasarnya ada di Maleber, otomatis secara transportasi akan lebih murah dan nilai ekonomi bagi masyarakat akan lebih tinggi,” ujarnya.
Ia juga menyoroti melimpahnya ketersediaan pakan ternak di Maleber yang dinilai belum dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat.
“Sekarang sudah banyak teknologi pakan ternak seperti silase maupun fermentasi. Ini akan kita edukasi kepada masyarakat,” katanya.
Tak hanya itu, Diding juga menargetkan adanya branding baru bagi Kecamatan Maleber sebagai “Gudang Sapi” di Kabupaten Kuningan.
“Kalau orang mencari sapi ya ke Maleber, mencari pedet ya ke Maleber. Itu cita-cita besar kita untuk meningkatkan ekonomi masyarakat,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Diding juga menyinggung kondisi kesehatan ternak sapi di wilayah Maleber. Ia mengatakan vaksinasi PMK rutin terus dilakukan dan kasus penyakit LSD atau penyakit kulit benjol pada sapi saat ini mulai mendekati kondisi aman.
“Kalau PMK sekarang relatif tidak tinggi seperti tahun-tahun sebelumnya. Sekarang hitungannya hanya satu dua ekor,” ungkapnya.
Ia optimistis program pembibitan ternak yang disertai pengawasan intensif dari dinas peternakan akan mampu meminimalisir penyebaran PMK di kalangan peternak.
Sementara itu, Diding menilai pola breeding lebih menjanjikan dibanding penggemukan bagi peternak kecil. Sebab, kebutuhan pedet berlangsung sepanjang tahun dan pasarnya dinilai sangat terbuka.
“Kalau pembibitan, hampir setiap bulan selalu ada yang membutuhkan pedet. Jadi peluangnya terbuka lebar,” pungkasnya.***









Tinggalkan Balasan