
KUNINGAN (VOX) – Perayaan ulang tahun sekolah seringkali hanya berakhir sebagai seremoni potong tumpeng. Namun, berbeda dengan Dies Natalis SLB Taruna Mandiri kali ini. Acara tersebut menjadi panggung pembuktian bagaimana sebuah yayasan pendidikan luar biasa di daerah mampu mencuri perhatian tingkat provinsi hingga nasional. (8/01/26).
Dihadiri langsung oleh Bupati Kuningan, perwakilan Kemendikbudristek RI Ibu Lia Apriliani, serta Sekretaris Dinas Pendidikan Jawa Barat Dr. Deden Saepul Hidayat, acara ini mengungkap fakta-fakta menarik tentang masa depan pendidikan inklusi di Jawa Barat.
Berikut adalah tiga hal krusial yang perlu Anda ketahui dari perayaan Dies Natalis SLB Taruna Mandiri yang ke-18 dan Yayasan Taruna Mandiri yang ke-31 ini.
Puncak kejutan dalam acara ini datang dari pengumuman Sekretaris Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, Dr. Deden Saepul Hidayat. Ia mengungkapkan bahwa SLB Taruna Mandiri berhasil menyabet Juara 2 dalam ajang Gapura Pancawaluya tingkat Provinsi Jawa Barat.
Kemenangan ini bukan sekadar piala. Dr. Deden menegaskan bahwa prestasi ini dikonversi menjadi bantuan sarana dan prasarana pendidikan dengan nilai fantastis.

“Hadiahnya luar biasa, 1,5 Miliar diberikan oleh Pak Gubernur. Tapi ingat, dalam bentuk sarana, tidak dalam bentuk uang,” jelas Deden.
Bantuan ini diharapkan menjadi katalisator bagi SLB Taruna Mandiri untuk meningkatkan kualitas layanan bagi anak-anak berkebutuhan khusus di Kuningan.
Dalam pidatonya, Bupati menyebut Dr. Carlan sebagai “orator ulung” yang berbicara dengan hati. Namun, ia menekankan bahwa kekuatan Pak Elon terletak pada dukungan sang istri.
Isu terbesar pendidikan luar biasa (PLB) di Kuningan adalah aksesibilitas. Dr. Deden memaparkan data bahwa saat ini baru terdapat 4 SLB Negeri di Kabupaten Kuningan. Angka ini belum cukup melayani populasi 2,5% anak berkebutuhan khusus yang tersebar di berbagai wilayah.
“Kami sudah menyusun sebuah sistem yang tidak mesti bentuk sekolah, tapi bisa bentuk unit-unit kecil,” papar Dr. Deden.
Strategi ini bertujuan untuk “menjemput bola”, memfasilitasi anak-anak yang selama ini terisolasi di rumah karena jarak sekolah yang terlalu jauh. Dukungan dari pemerintah daerah dan yayasan swasta seperti Taruna Mandiri menjadi kunci keberhasilan strategi ini.
Perayaan Dies Natalis SLB Taruna Mandiri tahun ini menegaskan posisi lembaga tersebut sebagai mitra strategis pemerintah. Dengan usia yayasan yang matang (31 tahun) dan suntikan fasilitas baru senilai Rp1,5 miliar, harapan untuk pemerataan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus di Kuningan kini semakin terang benderang.












Tinggalkan Balasan