KUNINGAN, (VOX) – Tradisi Tawasul di Patilasan Arya Kamuning kembali digelar masyarakat Desa Pajambon pada Jumat (5/12/25). Setiap 14 Dzulhijjah, warga berkumpul untuk mengenang dan mendoakan para leluhur, menjaga amanat Uyut Arya Kamuning yang sudah diwariskan turun-temurun. Enam tahun berjalan, tradisi ini makin terasa sebagai ruang penyatu warga.

Suasana berlangsung khidmat sejak pembacaan doa hingga khataman Qur’an selesai. Warga kemudian makan bersama, menjadikan momen ini bukan hanya ritual spiritual, tapi juga cara sederhana menjaga keakraban sesama.

Amanat Uyut Arya Kamuning kembali diingatkan, bahwa siapa pun yang berziarah ke makam para sesepuh “tidak akan merasakan kelaparan”—baik secara jasmani maupun dalam urusan iman. Pesan itu terus jadi pegangan untuk menjaga hati dan memperbaiki diri.

Endra Saefullah, tokoh pemuda Pajambon, menyampaikan bahwa rangkaian tahun ini mencakup Khatmil Qur’an dan pembacaan Simtudduror dalam satu majelis. Kegiatan digerakkan bareng komunitas pemuda Basecamp, aparat desa, Karang Taruna, serta para pemuda lintas latar belakang yang belakangan aktif jadi motor gerakan sosial dan budaya.

Dalam lima tahun terakhir, komunitas Basecamp konsisten menjalankan program keliling kebuyutan. Mereka mendatangi satu per satu situs leluhur, membersihkan area, hingga membantu kebutuhan di sana. Dari sekitar 11–12 kebuyutan, sebagian sudah direnovasi, sisanya masih menunggu giliran.

Pemerintah Desa ikut jadi penopang tradisi ini. Seluruh akomodasi kegiatan selama lima tahun terakhir ditanggung langsung oleh Kepala Desa, membuat penyelenggaraan Tawasul berjalan tanpa hambatan berarti.

Kepala Desa Pajambon, Nani Ariningsih, menyampaikan rasa terima kasihnya.
“Alhamdulillah, kami bersyukur karena masih banyak masyarakat yang peduli dan terus mengirimkan doa untuk para leluhur. Kami sangat mendukung kegiatan ini,” ujarnya.

Endra berharap kerja sama antara Basecamp dan Pemerintah Desa bisa mempercepat perbaikan seluruh kebuyutan yang tersisa.
“Yang kita rawat ini bukan sekadar bangunan, tapi sejarah dan jati diri orang Pajambon,” katanya.

Di tengah perubahan zaman, Pajambon menunjukkan bahwa tradisi tetap hidup selama dijaga bersama. Dari Patilasan Arya Kamuning, warga kembali pulang dengan doa, cerita, dan rasa memiliki yang makin kuat.***