Oleh: Daris pmii STAI Kuningan

KUNINGAN,(VOX) – Harlah PMII ke-66 bukan hanya sekadar perayaan angka usia. Harlah adalah cermin panjang perjalanan tentang harapan yang pernah dinyalakan, perjuangan yang terus diperjuangkan, dan pertanyaan yang tak pernah benar-benar selesai: apakah kita sedang melangkah maju, atau justru tanpa sadar berjalan mundur?

Enam puluh enam tahun lalu, PMII lahir dari rahim kegelisahan intelektual dan keberanian moral. PMII hadir bukan hanya sebagai organisasi, tetapi sebagai gerakan yang membawa semangat besar untuk perubahan, keberpihakan kepada kaum tertindas, dan komitmen terhadap nilai-nilai keislaman serta keindonesiaan. Ingat PMII bukan sekadar tempat berdiam, melainkan ruang untuk bertumbuh, berpikir, dan bergerak.

Namun hari ini, di tengah gemerlap seremoni dan ucapan selamat, kita perlu jujur bertanya pada diri kita sendiri: apakah ruh itu masih hidup? Atau justru perlahan memudar, tergantikan oleh formalitas, rutinitas, dan kepentingan sesaat?

Satu hal Kemajuan bukan diukur dari seberapa banyak kader yang direkrut, atau seberapa megah acara yang diselenggarakan. Tetapi Kemajuan sejati terletak pada seberapa dalam para kader memahami nilai, seberapa kuat keberanian bersuara untuk kebenaran, dan seberapa nyata kontribusi bagi masyarakat. Jika kader hanya hadir sebagai pelengkap struktur, kehilangan daya kritis, dan menjauh dari realitas sosial, maka itu bukan kemajuan itu kemunduran yang dibungkus rapi.

Di sisi lain, kita juga tidak bisa menutup mata bahwa PMII masih melahirkan kader-kader hebat, yang tetap setia berpikir kritis, bergerak di tengah masyarakat, dan menjaga idealisme. Mereka adalah bukti bahwa api itu belum padam. Hanya saja, api itu perlu terus dijaga, dirawat, dan diwariskan, agar tidak redup oleh arus zaman yang kian pragmatis.

Refleksi Harlah ke-66 ini seharusnya menjadi momentum untuk kembali pulang, pulang pada nilai dasar pergerakan, pada semangat intelektualitas, dan pada keberanian untuk berpihak. Bukan sekadar bangga dengan masa lalu, tetapi berani mengevaluasi masa kini dan menata masa depan.

Jika hari ini kita merasa ada yang kurang, itu bukan alasan untuk menyerah. Justru itu adalah panggilan untuk berbenah. Karena PMII tidak pernah ditakdirkan untuk diam, apalagi mundur. Ia harus terus bergerak, meski perlahan, asal tetap berada di jalan yang benar.

Maka pertanyaan itu kembali kita tujukan pada diri masing-masing:apakah kita bagian dari kemajuan itu, atau justru menjadi alasan kemunduran?

Sebab pada akhirnya, masa depan PMII tidak ditentukan oleh sejarahnya, tetapi oleh siapa kita hari ini dan apa yang kita lakukan untuk esok hari.***