KUNINGAN, (VOX) – Kronologi dugaan pencatutan identitas dalam kasus Ferrari Rp4,2 miliar mulai terurai melalui keterangan penyedia jasa berinisial AS, biro jasa asal Kuningan yang terlibat dalam proses pengurusan administrasi kendaraan.

AS menjelaskan bahwa awalnya ia dihubungi oleh seseorang berinisial BD dari Bekasi yang meminta bantuan pengurusan dokumen kendaraan Ferrari 458 Speciale Aperta.

Setelah menerima berkas berupa faktur, AS tidak langsung melakukan konfirmasi ke pemilik identitas. Ia terlebih dahulu melakukan pengecekan ke pihak Samsat Kuningan.

“Saya juga kan cross check dulu. Saya ke pihak samsat dulu. Setelah benar saya konfirmasi ulang, ini benar atas namanya. Iya benar katanya,” ujar AS.

Setelah mendapat kepastian bahwa dokumen secara administratif dapat diproses, AS kemudian mendatangi kediaman Rizal di Winduherang untuk memastikan langsung kebenaran data.

Namun saat itu Rizal tidak berada di tempat. AS kemudian menghubungi Rizal melalui telepon dan mendapatkan jawaban tegas bahwa yang bersangkutan tidak pernah membeli kendaraan tersebut.

“Saya langsung menolak karena saya tidak mengenal orang tersebut dan khawatir terjadi penyalahgunaan identitas,” ujar Rizal.

Atas pernyataan tersebut, AS sempat menghentikan proses pengurusan dan tidak melanjutkan berkas.

Namun beberapa hari kemudian, BD kembali menghubungi AS dan menyampaikan bahwa persoalan telah selesai serta Rizal disebut sudah bersedia.

BD kemudian mengajak AS bertemu di Samsat Kuningan untuk melanjutkan proses administrasi.

Dalam pertemuan tersebut, AS mengaku bertemu dengan dua orang. Satu orang disebut sebagai perwakilan pembeli, sementara satu orang lainnya memperkenalkan diri sebagai Rizal.

AS yang tidak mengenal langsung sosok Rizal hanya mengikuti arahan yang diberikan.

“Saya enggak tahu yang namanya Rizal yang mana. Saya di WA lagi, katanya sudah di parkiran Samsat. Saya jemput, terus saya arahkan masuk ke dalam,” jelasnya.

Selanjutnya, proses administrasi tetap berjalan. Orang yang mengaku sebagai Rizal menjalani verifikasi, termasuk pembuatan surat pernyataan serta dokumentasi oleh petugas.

“Rizal juga dihadirkan, difoto segala macam sama pihak samsat. Nah setelah itu saya mah tidak tahu lagi benar atau tidaknya,” ujar AS.

Temuan ini memunculkan dugaan kuat adanya sosok pengganti atau “Rizal palsu” dalam proses tersebut.

AS menegaskan dirinya hanya berperan sebagai perantara dalam pengurusan berkas dan tidak terlibat dalam transaksi pembelian.

“Saya mah hanya mengantarkan saja. Urusan transaksi kan mereka, yang pegang uang juga mereka,” tegasnya.

Selain itu, saat dikonfirmasi terkait dokumen kendaraan seperti Formulir A, SUT, dan SRUT, AS menyebut seluruh dokumen telah lengkap, atas nama Rizal, dan telah diverifikasi oleh pihak Samsat Kuningan.

Namun, saat ditanya apakah unit Ferrari tersebut pernah dihadirkan secara fisik ke Samsat, hingga berita ini diterbitkan belum ada jawaban dari AS.

Keterangan ini memperlihatkan rangkaian proses yang tidak biasa, mulai dari verifikasi dokumen hingga munculnya sosok yang mengaku sebagai pemilik, yang kini menjadi perhatian publik.***