KUNINGAN, (VOX) – Pemerintah Kabupaten Kuningan bergerak cepat merespons ancaman serangan hama tikus yang berpotensi menekan produksi padi di sejumlah sentra pertanian. Melalui Gerakan Pengendalian (Gerdal) Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT), sebanyak 15 hektare lahan sawah berhasil ditangani guna mencegah kerusakan yang lebih luas.

Serangan tikus sawah (Rattus argentiventer) dikenal sebagai salah satu ancaman utama bagi tanaman padi. Hama ini memiliki tingkat reproduksi tinggi, adaptif terhadap lingkungan, serta mampu menyerang tanaman secara masif sejak fase persemaian hingga menjelang panen. Dalam kondisi populasi tinggi, serangan bahkan dapat menyebabkan puso atau gagal panen total.

Merespons kondisi tersebut, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Diskatan) Kabupaten Kuningan langsung menggelar Gerdal OPT di lahan seluas 15 hektare yang berada di wilayah Kelompok Tani Tunas Mandiri 1, Desa Bakom, Kecamatan Darma, Sabtu (11/4/2026).

Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Kepala Diskatan Kabupaten Kuningan, Dr. Wahyu Hidayah, M.Si., bersama tim Brigade Proteksi Tanaman, Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT), serta para petani setempat.

“Serangan tikus merupakan ancaman nyata bagi produksi pangan. Pengendalian tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri, tetapi harus serentak dalam satu hamparan agar efektif menekan populasi,” ujar Wahyu di lokasi kegiatan.

Ia menegaskan, gerakan pengendalian ini merupakan bentuk respons cepat pemerintah daerah terhadap laporan petani di lapangan. Setiap aduan yang masuk langsung ditindaklanjuti dengan penerjunan tim untuk melakukan identifikasi dan tindakan pengendalian.

“Setiap aduan yang masuk langsung kami tindak lanjuti. Tim turun untuk identifikasi dan aksi pengendalian. Ini bagian dari upaya menjaga produksi tetap aman,” tegasnya.

Selain aksi teknis di lapangan, Diskatan juga memberikan edukasi kepada petani terkait karakteristik hama tikus, pola serangan, serta strategi pengendalian terpadu yang efektif dan ramah lingkungan. Petani didorong untuk melakukan pengendalian secara kolektif, mulai dari sanitasi lahan, pengemposan sarang, hingga penggunaan sarana pengendalian secara tepat.

Sebagai bentuk dukungan, Diskatan turut menyalurkan bantuan rodentisida untuk mendukung pengendalian serentak di lahan terdampak. Bantuan tersebut diharapkan mampu menekan populasi tikus secara signifikan dan mencegah meluasnya serangan.
Wahyu menekankan, keberhasilan pengendalian sangat ditentukan oleh kekompakan petani dalam satu kawasan. Menurutnya, pengendalian serentak menjadi kunci utama dalam memutus siklus hidup hama.

“Kalau dilakukan serempak, siklus hidup tikus bisa diputus. Ini kunci utama keberhasilan pengendalian,” ujarnya.

Para petani menyambut positif langkah cepat pemerintah daerah yang turun langsung ke lapangan. Kehadiran Diskatan dinilai memberikan kepastian sekaligus meningkatkan semangat petani dalam menghadapi ancaman hama.

Langkah ini menjadi bagian dari strategi berkelanjutan Pemerintah Kabupaten Kuningan dalam menjaga ketahanan pangan daerah. Melalui respons cepat, penguatan edukasi, serta dukungan sarana produksi, pemerintah berupaya memastikan stabilitas produksi padi tetap terjaga.

Dengan sinergi antara pemerintah dan petani, Kuningan optimistis mampu menekan dampak serangan hama serta menjaga produksi padi sebagai komoditas strategis daerah.***