KUNINGAN(VOX) – Setahun memimpin, Dian dan Tuti tidak sekadar bertahan. Mereka mengklaim berhasil membalik tekanan fiskal menjadi momentum akselerasi pembangunan. Dari defisit menuju optimisme, dari tunda bayar menuju kepala tegak. (16/02/26).
Dalam refleksi satu tahun kepemimpinannya, Bupati Kuningan Dian menegaskan bahwa pemerintahannya bukan soal simbol kekuasaan, melainkan kerja pelayanan. “Kami berdiri bukan sebagai penguasa, tetapi sebagai pelayan masyarakat,” ujarnya di hadapan unsur Forkopimda, kepala SKPD, tokoh masyarakat, akademisi, hingga insan pers.
Data yang dipaparkan terbilang mencolok. Angka kemiskinan turun menjadi 10,74 persen atau berkurang sekitar 12.160 jiwa. Tingkat pengangguran terbuka menurun ke 7,59 persen. Laju pertumbuhan ekonomi bahkan sempat menyentuh 10,4 persen sebelum ditutup di angka 9,7 persen pada akhir tahun, tertinggi di Jawa Barat.
Namun Dian mengingatkan bahwa angka tidak boleh menjadi euforia kosong. “Kami tidak mengklaim kemiskinan sudah hilang. Statistik tidak akan berarti jika masyarakat belum merasakan perubahan nyata,” katanya.
Salah satu langkah strategis yang disorot adalah penyelesaian tunda bayar sekitar Rp96,7 miliar. Pemerintah daerah menyebut pelunasan itu sebagai fondasi penting untuk memulai pembangunan tanpa beban utang jangka pendek. Dengan ruang fiskal yang lebih sehat, anggaran kemudian difokuskan pada infrastruktur dan layanan dasar.
Sebanyak 153 ruas jalan diperbaiki dengan alokasi sekitar Rp53 miliar. Puluhan sekolah direvitalisasi dengan dukungan APBD dan pemerintah pusat. Sektor kesehatan mendapat suntikan anggaran Rp27,5 miliar. Di bidang pertanian, program subsidi pupuk dan bantuan benih mendorong peningkatan produksi beras hingga 254 ton dan mencatat surplus 124 ton dibanding tahun sebelumnya.
Meski demikian, Dian mengakui masih ada pekerjaan rumah. Pelayanan publik yang belum optimal dan prosedur birokrasi yang berbelit menjadi catatan yang harus dibenahi. “Kami menyadari belum sempurna. Untuk itu kami memohon maaf kepada masyarakat,” ujarnya.
Menjelang Ramadan, Dian dan Tuti juga menyampaikan permohonan maaf secara pribadi dan atas nama pemerintah daerah. Ia berharap bulan suci menjadi momentum memperkuat solidaritas dan semangat membangun Kuningan secara bersama.
Refleksi satu tahun ini menjadi panggung klaim sekaligus pengakuan. Ada capaian yang dipamerkan, ada kekurangan yang diakui. Di antara keduanya, pemerintahan Dian Tuti menaruh taruhan politik pada satu hal, bahwa konsistensi kerja dan dukungan publik akan menentukan apakah lonjakan setahun ini menjadi tren jangka panjang atau sekadar momentum sesaat.***





Tinggalkan Balasan