KUNINGAN, (VOX) – Sekretaris Daerah Kabupaten Kuningan, U Kusmana, menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam mendorong dunia pendidikan yang aman, berkarakter, dan bebas kekerasan dengan menekankan penerapan nilai Panca Waluya di seluruh sekolah. Penegasan ini disampaikan menyusul sorotan publik terhadap dugaan kekerasan dalam kegiatan luar sekolah yang melibatkan peserta didik di Kabupaten Kuningan.

Panca Waluya yang dimaksud mencakup nilai Cageur, Bageur, Bener, Pinter, dan Singer. Cageur dimaknai sebagai kondisi fisik dan mental yang sehat, Bageur menekankan akhlak dan perilaku yang baik, Bener berarti menjunjung kebenaran dan kejujuran, Pinter berkaitan dengan kecerdasan dan kapasitas berpikir kritis, serta Singer yang menekankan ketangkasan, kreativitas, dan kepekaan sosial. Nilai-nilai ini, menurut Sekda, harus menjadi napas dalam setiap aktivitas pendidikan, bukan sekadar slogan di dinding sekolah.

U Kusmana secara tegas meminta agar seluruh sekolah benar-benar menghapus budaya senioritas yang selama ini kerap menjadi pintu masuk praktik kekerasan. Ia menekankan tidak boleh ada lagi perundungan, baik fisik maupun verbal, dalam bentuk apa pun di lingkungan pendidikan Kuningan. “Sekolah harus menjadi ruang aman. Budaya senioritas yang melahirkan kekerasan harus dihapus total. Tidak boleh ada lagi perundungan fisik maupun verbal di Kuningan,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa setiap kegiatan sekolah, termasuk kegiatan ekstrakurikuler dan kegiatan luar sekolah, wajib berada dalam pendampingan penuh pihak sekolah. Pengawasan yang ketat dinilai penting untuk memastikan proses pembinaan berjalan sesuai tujuan pendidikan dan tidak menyimpang menjadi ajang kekerasan yang dibungkus atas nama tradisi atau kedisiplinan.

Menurut Sekda, penerapan Panca Waluya secara konsisten akan membentuk ekosistem pendidikan yang sehat dan beradab. Pendidikan, kata dia, tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter dan penghormatan terhadap martabat setiap peserta didik. Pemerintah daerah berharap seluruh sekolah di Kuningan menjadikan momentum ini sebagai titik balik untuk berbenah dan memastikan dunia pendidikan benar-benar bebas dari kekerasan.***