VOXPOPULI.CO.ID – Jalan Siliwangi hingga kawasan Pendopo Kabupaten Kuningan dipadati ribuan warga yang antusias menyaksikan helaran Seba Sapton dan Babarit, Sabtu (5/9/2026). Tradisi budaya tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi Kuningan ke 528.

Pelaksanaan tahun ini terasa berbeda karena prosesi Sapton yang sebelumnya digelar di Lapangan dipindahkan ke Jalan Siliwangi. Perubahan lokasi membuat rangkaian tradisi keprajuritan dan seni budaya dapat disaksikan masyarakat secara lebih luas.

Bupati Kuningan Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si., mengatakan pemindahan lokasi tersebut mendapat respons positif dari masyarakat. Antusiasme warga terlihat sejak kirab dimulai hingga rangkaian acara berakhir.

“Kalau Sapton ini sekarang berbeda. Kalau dulu dinikmati oleh para peserta saja di Lapang Cijoho, sekarang kita pindahkan di Jalan Siliwangi. Ternyata mendapat antusiasme yang cukup bagus dari para penonton dan masyarakat,” kata Dian.

Menurut Dian, antusiasme tersebut menjadi bukti bahwa tradisi leluhur masih memiliki tempat kuat di tengah masyarakat. Karena itu, tradisi harus terus dipertahankan dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Ini artinya tradisi leluhur dari waktu ke waktu terus kita pertahankan. Mudah-mudahan, seperti yang saya sampaikan tadi, menghormati tradisi dan merawat tradisi ini juga sepertinya merawat masa depan,” ungkapnya.

Seba Sapton dan Babarit tahun ini mengusung tema “Ajeg Purbawisesa”. Rangkaian kegiatan diawali dengan berkumpulnya peserta Seba Sapton di area Taman Kota Kuningan, kemudian dilanjutkan alunan Tatalu dari Tim Seni Seba Bhakti Raharja di Pendopo yang diikuti lima Kademangan.

Prosesi utama dimulai sekitar pukul 13.30 WIB melalui Kirab Keprajuritan “Nganjang Ka Pendopo Raja”. Para camat tampil sebagai Demang bersama kontingen dari masing-masing Kademangan.

Rombongan kemudian disambut Pangbage Kanjeng Raja atau Bupati Kuningan, Kanjeng Patih atau Wakil Bupati Kuningan, serta para Gedeng yang terdiri dari Asisten Daerah, Staf Ahli dan kepala SKPD. Unsur Forkopimda dan tamu undangan turut hadir dalam prosesi tersebut.

Prosesi dilanjutkan dengan penyerahan pusaka Kujang oleh Kepala Disporapar kepada Ketua Panitia Hari Jadi ke-528 Kuningan, U. Kusmana, S.Sos., M.Si., yang juga menjabat Sekda Kuningan selaku Mantri Jero.

Selanjutnya dilakukan penyerahan pusaka kerajaan dan pelepasan busur panah oleh Bupati Kuningan sebagai tanda dimulainya rangkaian acara secara resmi. Masyarakat kemudian disuguhi Tari Kolosal Gelar Budaya Seba Sapton “Ajeg Purbawisesa”.

Rangkaian Seba dilanjutkan dengan penyerahan dari lima Kademangan yang mewakili seluruh wilayah kecamatan di Kabupaten Kuningan. Setiap Kademangan membawa ciri khas keprajuritan dan kesenian daerah masing-masing.

Kademangan Jaya Giri menampilkan keprajuritan panah dan Angklung Buncis. Kademangan Mandala Jaya menghadirkan keprajuritan pedang-tameng dan Reog Pencak.

Kademangan Bratasana Jaya menampilkan keprajuritan tombak-tameng dan Seni Tari Tombak Wayang. Kademangan Raksakancana Jaya membawa keprajuritan gada dan Tari Angkol. Sementara Kademangan Suradipati Jaya menampilkan Kujang Satia Pusaka Wibawa Nagara dan Tari Rudat.

Sekretaris Disporapar Kuningan Ritto Riswanto, SE.Par., M.Par., mengatakan setelah penyerahan hasil Seba, prosesi dilanjutkan dengan amanat Kanjeng Raja dan Nawur Asih oleh Kanjeng Patih.

“Setelah penyerahan hasil Seba, Kanjeng Raja akan memberikan amanat. Selanjutnya dilaksanakan prosesi Nawur Asih oleh Kanjeng Patih berupa pembagian hasil Seba, tumpeng, dan gunungan sayur kepada masyarakat,” jelas Ritto.

Pada sore hari, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan prosesi Babarit. Acara diawali Rajah atau Kidung Pembuka, kemudian dilanjutkan tari sakral sebagai simbol Babarit, Tayub Menak, Tepak Soder, Tari Kangsreng hingga Tari Masal.

Puncak acara ditandai dengan Murak Tumpeng. Tradisi tersebut menjadi simbol ungkapan rasa syukur sekaligus ngala berkah melalui makan bersama antara pejabat, tamu undangan dan masyarakat.

Dian mengapresiasi antusiasme masyarakat yang ikut menyukseskan rangkaian Hari Jadi Kuningan. Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ruang pelestarian budaya, tetapi juga berpotensi menjadi daya tarik wisata.

“Saya berterima kasih kepada antusiasme masyarakat dan panitia yang telah menggagas kegiatan ini, mungkin dengan segala kekurangannya. Insya Allah mudah-mudahan ini juga menjadi daya tarik wisata,” tuturnya.

Ia juga menyoroti tradisi berbagi makanan dan sayuran hasil Seba. Masyarakat mendapatkan sayuran dari masing-masing Kademangan untuk dibawa pulang sebagai bekal.

“Ada hal yang menarik, kita juga tadi membagikan makanan, makan bersama. Walaupun tadi karena ada beda waktu jadi tidak apa-apalah, masyarakat juga menikmati makanan yang kita bagikan. Mereka mendapat sayur dari Kuningan dari masing-masing kerajaannya, sayur itu dibagikan untuk dibawa sebagai bekal ke rumahnya masing-masing,” kata Dian.

“Saya senang hari ini masyarakat bisa tersenyum bahagia di Hari Ulang Tahun Kuningan, Hari Ulang Tahun kita bersama,” ujarnya.

Antusiasme warga juga terlihat dari kehadiran masyarakat yang sengaja datang untuk menyaksikan helaran. Oom (60), warga Desa Sagahariang, Kecamatan Darma, datang bersama cucunya untuk melihat langsung rangkaian tradisi tersebut.

“Setiap tahun saya selalu menyaksikan. Tapi tahun ini terasa berbeda, lebih seru dan meriah. Saya sengaja datang bersama cucu untuk melihat langsung,” tuturnya.

Rangkaian Hari Jadi ke-528 Kuningan masih akan berlanjut dengan sejumlah agenda. Minggu (6/9/2026), pemerintah daerah menjadwalkan Melesat Run.

Selanjutnya pada 13 September 2026 akan digelar Karnaval Budaya bertema “Kuningan dari Masa ke Masa”. Karnaval tersebut akan mengambil rute mulai dari Bunderan Cijoho hingga depan Taman Kota Kuningan.

Selain itu, kegiatan Saba Desa dijadwalkan mulai 8 September 2026. Agenda tersebut diawali dari Kecamatan Subang, kemudian dilanjutkan ke Cimahi dan Rancah dengan kegiatan seni budaya, bakti sosial, pengobatan, pelayanan administrasi pemerintahan, bedah rumah hingga pelayanan kesehatan.

Bupati Dian berharap perayaan Hari Jadi Kuningan tidak berhenti sebagai seremoni tahunan, tetapi menjadi momentum memperkuat silaturahmi dan kebersamaan antara pemerintah dengan masyarakat.

“Sekali lagi terima kasih, mudah-mudahan dengan perayaan ini kita semakin memperkuat tali silaturahmi, guyub, kompak, bersama-sama kita membangun Kuningan ke depan,” pungkasnya.***