
VOXPOPULI.CO.ID – Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar resmi membuka Ciremai Coffee Culture 2026 dalam rangkaian Milangkala Kuningan ke-528, Jumat (4/9/2026). Kegiatan tersebut dihadiri pimpinan daerah Kunci Bersama, Kantor Perwakilan Bank Indonesia, jajaran Forkopimda, pelaku usaha, komunitas kopi, petani, barista, serta sejumlah artis Jawa Barat seperti Ceu Popon, Mak Jedor dan Ki Daus.
Dalam sambutannya, Dian mengatakan festival kopi tahun ini sengaja digelar dengan konsep berbeda karena pemerintah ingin lebih fokus mengangkat komoditas unggulan yang berasal dari tanah Kuningan dan tangan para petani. “Festival ini jangan berhenti hanya sebagai sebuah festival saja, tapi sebagai momentum untuk membangun Kuningan melalui kopi,” ujar Dian.
Dian menyebut potensi produksi kopi Kuningan terus meningkat. Dari sebelumnya sekitar 775 ton, produksi disebut telah mencapai 1.236 ton. Dengan pengelolaan dan kolaborasi yang serius, ia optimistis produksi kopi Kuningan dapat meningkat hingga 2.000 bahkan 3.000 ton. “Ini menunjukkan bahwa kopi bukan komoditas kaleng-kaleng. Kopi bukan komoditas kecil lagi. Kopi bukan lagi komoditas yang tidak punya masa depan,” tegasnya.
Menurut Dian, kualitas kopi Kuningan juga mulai mendapat pengakuan di tingkat internasional. Ia menyebut kopi Desa Karangsari, Kecamatan Darma, telah masuk kurasi festival kopi internasional dan termasuk dalam 20 kopi terbaik di Indonesia. “Lahannya ada, petaninya ada, kualitasnya ada, bahkan pasarnya pun ada. Tergantung kita bagaimana mengolahnya,” katanya.
Namun, Dian mengingatkan masih ada pekerjaan rumah besar, terutama terkait kemampuan memenuhi permintaan pasar dalam jumlah besar, menjaga kontinuitas dan mempertahankan kualitas. Ia mencontohkan adanya buyer internasional yang meminta sekitar 30 ton kopi arabika, tetapi belum mampu dipenuhi karena keterbatasan kapasitas dan permodalan. “Pertanyaannya sekarang hari ini adalah apakah kopi Kuningan disukai atau tidak? Dan ini sudah terjawab, kopi Kuningan disukai di dunia internasional,” ungkapnya.

Karena itu, Dian meminta seluruh pihak membangun ekosistem kopi dari hulu hingga hilir, mulai dari budidaya, produktivitas kebun, kualitas panen, pascapanen, roasting hingga pemasaran. “Ke depan kita tidak berbicara kopi go internasional, tapi go export. Kualitasnya siap, kuantitasnya siap, kontinuitasnya siap, kelembagaannya siap, metodenya siap,” tegas Dian.
Dian juga menekankan agar perkembangan industri kopi berdampak langsung terhadap kesejahteraan petani. Ia menyebut Kuningan masih memiliki sekitar 1.500 hektare lahan kopi yang belum dimanfaatkan secara optimal. “Jangan sampai harga kopi semakin tinggi di pasar, tetapi petaninya biasa saja, tidak merasakan dampaknya,” katanya. Ia juga mengajak generasi muda terlibat sebagai petani, barista, roaster maupun pengusaha kopi.
Menutup sambutannya, Dian berharap Ciremai Coffee Culture menjadi titik awal kebangkitan kopi Kuningan hingga mampu menembus pasar dunia. “Kopi adalah budaya, kopi adalah kreativitas, kopi adalah identitas, kopi adalah masa depan, kopi adalah finansial, kopi adalah aset berharga yang sekarang belum dimaksimalkan,” tuturnya. Ia kemudian secara resmi membuka Festival Kopi Kuningan 2026 dengan tema “Ciremai Coffee Culture: Melesat Aroma Kopi” dan berharap suatu hari kopi Kuningan dikenal luas di mancanegara.***









Tinggalkan Balasan