
VOXPOPULI.CO.ID – VIK Rendezvous #15 2026 Futsal Competition kembali bergulir dengan konsep yang sedikit berbeda dibandingkan penyelenggaraan tahun-tahun sebelumnya.
Ketua Pelaksana VIK Rendezvous #15 2026, Aris Dorray, mengatakan tahun ini pihaknya mulai memasukkan kategori Grassroot usia 8 tahun sebagai bagian dari kompetisi yang digelar di GOR Ewangga, Kuningan.
Hal tersebut disampaikan Aris Dorray saat ditemui di GOR Ewangga, Senin (31/8/2026).
“Alhamdulillah untuk konsep VIK Rendezvous tahun ini kita ada sedikit perbedaannya dari tahun-tahun sebelumnya, karena tahun ini kita memakai usia Grassroot, yakni usia 8. Usia 8 dan yang lainnya tetap masih kayak tahun-tahun sebelumnya,” ujar Aris.
Menurutnya, keputusan menghadirkan kategori usia 8 tahun tidak terlepas dari banyaknya permintaan sekaligus keinginan penyelenggara untuk mulai memperkenalkan olahraga futsal kepada anak-anak sejak usia dini.

“Dasarnya karena banyak permintaan dan lagipula kita pengin memfasilitasi, memperkenalkan dan edukasi futsal sejak usia dini,” katanya.
Pada penyelenggaraan VIK Rendezvous #15 2026, peserta mencapai sekitar 220 tim yang terbagi dalam sembilan kategori.
Untuk kategori usia 8 tahun terdapat enam tim, sedangkan kategori usia 10 tahun diikuti 16 tim. Secara keseluruhan, jumlah peserta disebut masih berada di kisaran yang sama dengan penyelenggaraan sebelumnya.
Aris menjelaskan, target utama VIK Rendezvous bukan hanya menyelenggarakan pertandingan, tetapi juga menjadi wadah bagi para penggiat futsal serta bagian dari proses mencetak generasi baru pemain futsal di Kabupaten Kuningan.
“Target utama yang pertama kita pengin memfasilitasi teman-teman futsal, terus yang keduanya kita pengin menciptakan lagi generasi futsal di Kuningan,” ungkapnya.
Ia melihat Kuningan memiliki potensi besar untuk melahirkan pemain futsal yang mampu bersaing di level yang lebih tinggi. Terlebih, saat ini Kuningan memiliki klub yang berlaga di kompetisi futsal profesional.
“Kebetulan di Kuningan juga memiliki klub yang di Liga Pro ya, di Liga satu dan mudah-mudahan potensi-potensi futsal Kuningan ini bisa ada di tingkat Jawa Barat maupun di nasional,” tuturnya.
Aris menilai perkembangan olahraga futsal saat ini sangat pesat, baik di tingkat nasional, Jawa Barat maupun daerah. Namun, menurutnya, perkembangan tersebut perlu diimbangi dengan dukungan fasilitas yang memadai.
Ia secara khusus menyoroti belum tersedianya GOR futsal yang dianggap representatif di Kabupaten Kuningan.
“Perkembangan futsal saat ini alhamdulillah sangat pesat, baik di tingkat nasional, provinsi, maupun di daerah. Dan khususnya Kuningan, kami dari penggiat futsal Kabupaten Kuningan mengharapkan sekali GOR ataupun fasilitas yang representatif lagi buat berkembangnya futsal khususnya di Kabupaten Kuningan,” kata Aris.
Menurutnya, keberadaan lapangan dengan standar yang memadai penting untuk mendukung pembinaan atlet. Ia mencontohkan pemain Kuningan yang terbiasa berlatih di lapangan dengan ukuran lebih kecil terkadang mengalami kendala ketika harus tampil di tingkat provinsi dengan ukuran lapangan yang sudah memenuhi standar.
“Karena di Kuningan tidak punya GOR yang representatif,” tegasnya.
Ia berharap persoalan fasilitas tersebut mendapat perhatian bersama, baik dari pemerintah daerah maupun pihak swasta.
“Belum ada ya, baik itu dari swasta maupun dari pemerintah daerah. Kuningan ini berharap banget memiliki GOR futsal,” ujarnya.
Aris juga menyinggung pentingnya membangun komunikasi dan kolaborasi antarpihak untuk memajukan futsal Kuningan. Menurutnya, agenda kompetisi seperti VIK Rendezvous dan kegiatan yang digelar klub-klub futsal dapat menjadi bagian dari ekosistem pembinaan yang saling mendukung.
Ia mengakui VIK Rendezvous #15 tidak berkolaborasi secara langsung dengan Proton FC dalam penyelenggaraan tahun ini. Namun, dirinya memiliki pengalaman terlibat dalam penyelenggaraan Proton Super Cup.
“Kebetulan kemarin juga Proton Super Cup itu kebetulan saya juga ketua panitianya, mengingatkan saya juga di Asosiasi Futsal Kabupaten Kuningan sebagai komisi kompetisi, di bidang kompetisi,” jelasnya.
Karena itu, ia menilai kolaborasi menjadi hal penting jika ingin melihat futsal Kuningan berkembang lebih jauh.
“Jadi ya kalau bicara kolaborasi ya kita untuk futsal lebih baik ya kita harus jalin kolaborasi yang lebih baik,” katanya.
Selain eksekutif, Aris juga berharap dukungan dari legislatif. Ia mengakui sejauh ini perhatian legislatif terhadap futsal masih belum terlalu dirasakan.
“Dari legislatif ya belum sih, kebetulan saya juga kurang inilah,” ujarnya.
Meski demikian, ia membuka peluang untuk melakukan audiensi maupun bertukar pikiran dengan pihak legislatif apabila terdapat kesempatan.
“Ya kalau ada kesempatan, kalau ada peluang ya kenapa tidak. Karena koneksitas kita pengin memajukan futsal Kuningan biar ada dukungan dari pihak legislatif, eksekutif, maupun dari pemerintah apa masyarakat umum,” ungkapnya.
Sementara itu, VIK Rendezvous dipastikan akan terus bergulir. Bahkan, penyelenggara sudah menyiapkan target untuk edisi berikutnya.
Jika pada 2026 kategori Grassroot yang diperkenalkan adalah usia 8 tahun, maka pada VIK Rendezvous 2027 pihaknya menargetkan menghadirkan kategori yang lebih muda lagi.
“2027 kita targetnya di usia 6 tahun. Kalau sekarang 8 tahun, nanti usia tahun depan kita piangin dari 6 tahun,” pungkas Aris.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa pembinaan futsal di Kabupaten Kuningan mulai diarahkan sejak usia semakin dini, dengan harapan muncul bibit-bibit baru yang nantinya mampu membawa nama Kuningan di level Jawa Barat hingga nasional.***









Tinggalkan Balasan