
KUNINGAN, (VOX) – Ketua Komite SDN 17 Kuningan, Tini Trias, akhirnya angkat suara terkait polemik pesan berantai (broadcast message) yang beredar dan memicu dugaan intimidasi terhadap pihak yang mengunggah foto menu Makan Bergizi Gratis (MBG) dari SPPG Cijoho 3.
Dalam keterangannya, Tini Trias menegaskan bahwa dirinya tidak pernah menginstruksikan kepada jajaran komite untuk membuat narasi sebagaimana yang beredar. Ia juga mengaku tidak mengetahui siapa pihak yang pertama kali menyusun dan menyebarkan pesan tersebut, serta berkomitmen akan menelusuri asal-usulnya.
Selain itu, pihak komite sekolah turut menyampaikan permohonan maaf atas kegaduhan yang terjadi di tengah masyarakat akibat peristiwa tersebut. Tini Trias juga mengimbau agar seluruh pihak yang merasa tidak nyaman dapat mengedepankan pendekatan kekeluargaan.
“Supaya persoalan ini tidak menjadi berlarut-larut dan dapat diselesaikan dengan baik,” ujarnya kepada vox, Kamis (23/04).
Sementara itu, Kepala SPPG Cijoho 3, Rizki Rahmat Hidayat, menjelaskan kronologi kejadian yang menjadi latar belakang polemik tersebut. Ia menyampaikan bahwa pada Rabu, 22 April 2026 dan Kamis, 23 April 2026, siswa kelas 6 SDN 17 Kuningan tengah melaksanakan ujian sekolah.

Untuk menjaga kondusivitas, siswa kelas 1 hingga 5 tetap masuk seperti biasa, namun dilakukan penyesuaian dalam distribusi makanan. Awalnya, pihak dapur menyediakan makanan menggunakan kotak mika selama dua hari ujian agar lebih praktis.
Namun, setelah pelaksanaan hari pertama, pihak SPPG menerima arahan dari koordinator wilayah bahwa penyajian makanan tidak diperkenankan menggunakan kotak mika, melainkan harus tetap menggunakan tray atau ompreng sesuai standar.
“Atas dasar itu, kami mengonfirmasi ke pihak sekolah bahwa untuk hari berikutnya tidak bisa lagi menggunakan kotak mika,” jelas Rizki.
Perubahan tersebut kemudian memicu perbincangan di kalangan wali murid, terutama terkait perbandingan wadah makanan. Pihak sekolah pun mengambil langkah dengan menyampaikan permohonan maaf serta mengimbau wali murid agar tidak membandingkan penyajian antar sekolah.
Menanggapi isu yang berkembang terkait adanya dugaan investigasi terhadap pengunggah menu MBG, Rizki menegaskan bahwa pihaknya tidak pernah melarang dokumentasi maupun publikasi menu makanan.
“Kami meyakini bahwa transparansi adalah fondasi dari kepercayaan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa keterlibatan publik dalam mengawasi kualitas sajian justru menjadi bagian penting dalam menjaga standar gizi dan kualitas pelayanan sesuai arahan Badan Gizi Nasional (BGN).
“Tidak ada larangan bagi orang tua murid, komite, maupun pihak sekolah untuk mendokumentasikan atau mengunggah menu yang disajikan. Itu bagian dari check and balance,” tegasnya.
Rizki juga secara tegas membantah narasi yang menyebut adanya teguran dan peringatan dari BGN sebagaimana yang beredar dalam pesan internal komite yang diteruskan ke para koordinator kelas (korlas) hingga wali murid.
“Tidak sama sekali pak,” jawabnya singkat saat dikonfirmasi.
Ia menegaskan bahwa fokus utama program MBG adalah memastikan anak-anak mendapatkan asupan gizi terbaik. Dengan komunikasi yang sehat, ia berharap setiap kesalahpahaman dapat diselesaikan tanpa menimbulkan kegaduhan berkepanjangan.
Dengan klarifikasi dari kedua pihak ini, diharapkan polemik yang sempat mencuat dapat segera mereda dan tidak mengganggu tujuan utama program MBG di lingkungan sekolah.***









Tinggalkan Balasan