
KUNINGAN (VOX) – Semangat Hari Kartini di Kabupaten Kuningan tidak hanya berhenti di ruang diskusi. Dari panggung talkshow “Saujana Kartini: Merawat Harapan, Mengukir Peran Perempuan Kuningan” yang digelar di Saung Kopi Hawwu, Selasa (21/4/2026), lahir aksi nyata yang langsung menyentuh masyarakat.
Salah satu kisah yang menggerakkan perhatian adalah perjuangan hidup Ibu Mela Maulani. Dalam forum tersebut, ia berbagi cerita tentang kesehariannya bersama sang suami, Andri Solepudin, yang bekerja menjual rongsok demi memenuhi kebutuhan keluarga. Sosoknya dikenalkan sebagai perempuan tangguh yang tetap berjuang di tengah keterbatasan.

Usai kegiatan, Wakil Bupati Kuningan, Tuti Andriani, langsung bergerak cepat meninjau kediaman Ibu Mela di Jalan Otista, Kelurahan Kuningan. Langkah ini menjadi bukti bahwa kepedulian pemerintah tidak hanya berhenti pada wacana, tetapi diwujudkan melalui tindakan nyata di lapangan.
Saat berada di lokasi, Wabup Tuti mendapati kondisi rumah yang masuk kategori rumah tidak layak huni (rutilahu). Atap berbahan bilik bambu terlihat rusak parah dan berlubang, bahkan sebagian sudah jebol sehingga berisiko bocor saat hujan dan membahayakan penghuni.
Bagian dalam rumah pun tak kalah memprihatinkan. Dinding tampak kusam dan lembap, sementara instalasi listrik terlihat tidak tertata dan menggantung. Ruangan yang sempit digunakan untuk berbagai aktivitas, termasuk menjemur pakaian di dalam rumah karena keterbatasan ruang.

Melihat kondisi tersebut, Wabup langsung berkoordinasi dengan aparatur setempat untuk memastikan penanganan segera dilakukan.
“Nanti ibu bisa dipindahkan dulu ke tempat yang kosong, biar rumahnya diperbaiki. Akan dibantu oleh lingkungan setempat,” ujar Wabup Tuti.
Ibu Mela merupakan perempuan asal Tasikmalaya yang kemudian menetap di Kuningan setelah menikah. Dari pernikahannya, ia dikaruniai seorang anak, Amelia Andri Ani (8), yang mengalami kondisi stunting dan belum dapat berjalan maupun berbicara.
Selain bekerja membantu suami mencari nafkah, ia juga merawat anak serta ibu mertuanya, Ibu Karsih, yang tinggal bersama dan berjualan kecil-kecilan.
Di tengah berbagai keterbatasan, Ibu Mela tetap menunjukkan keteguhan hati.
“Yang penting halal, saya tetap berusaha demi keluarga,” ungkapnya.
Kehadiran Wakil Bupati di rumahnya menjadi momen yang mengharukan bagi keluarga tersebut. Ibu Mela mengaku bersyukur atas perhatian yang diberikan oleh pemerintah daerah.
“Alhamdulillah, seperti mimpi. Terima kasih banyak kepada Bapak Bupati Dian Rachmat Yanuar dan Ibu Wakil Bupati Tuti Andriani. Doa saya selama ini akhirnya dikabulkan,” tuturnya.
Sebelumnya, keluarga ini diketahui telah menerima bantuan sosial seperti bansos dan BPNT. Namun, langkah cepat pemerintah dalam merespons kondisi rumah mereka memberikan harapan baru untuk kehidupan yang lebih layak.
Momentum Hari Kartini di Kuningan menjadi refleksi bahwa semangat perjuangan perempuan tidak hanya dirayakan secara simbolis, tetapi diwujudkan melalui aksi nyata.
Kisah Ibu Mela menjadi bukti bahwa di balik keterbatasan, selalu ada harapan. Dan melalui kepedulian pemerintah, harapan itu kini mulai menemukan jalannya.***









Tinggalkan Balasan