
KUNINGAN, (VOX) — Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kuningan (Diskatan) kembali menggelar Monitoring dan Pemberian Arahan pada kegiatan Farm Field Day (FFD) Sekolah Lapang Tematik 2025, Senin (17/11/2025). Kegiatan berbasis pendidikan lapangan melalui demplot ini berlangsung di Desa Timbang, Kecamatan Cigandamekar, sekaligus digelar serentak di Desa Cileuleuy (Cigugur), Cidahu (Pasawahan), serta Cikadu (Nusaherang).
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya besar Diskatan untuk meningkatkan kapasitas petani, memperkuat regenerasi pelaku usaha tani, dan memperluas adopsi teknologi budidaya modern di wilayah sentra pangan Kabupaten Kuningan.
Acara dihadiri langsung oleh Kepala Diskatan Kuningan Dr. Wahyu Hidayah, M.Si, jajaran UPTD dan PPL, Kepala Desa Timbang Andi, kelompok tani, serta patriot ketahanan pangan Banser Kuningan.
Kepala Desa Timbang, Andi, menyampaikan apresiasi atas pendampingan intensif yang dilakukan Diskatan kepada Kelompok Tani Muda Berkarya.
“Kami berterima kasih kepada Diskatan beserta UPTD dan PPL yang sudah memberikan materi, pendampingan, dan bantuan stimulan untuk pelaksanaan tanam padi. Semuanya sudah dibiayai pemerintah, tidak membebani petani,” ujarnya.

Dalam arahannya, Dr. Wahyu menegaskan bahwa teknologi pertanian modern yang diterapkan dalam demplot mampu meningkatkan produktivitas meski di tengah serangan hama.
“Di tengah serangan hama, hasil panen justru meningkat. Artinya teknologi ini efektif. Model seperti ini harus diperluas, terutama melalui tanam serentak agar pengendalian hama lebih optimal,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya integrated pest management, termasuk pemanfaatan burung hantu sebagai predator alami tikus.
“Kita bisa membangun rumah burung hantu di titik strategis. Jika dilakukan serentak, Insya Allah populasi tikus bisa ditekan,” tambahnya.
Wahyu turut memperkenalkan konsep sawah pokok murah, yaitu metode budidaya memakai mulsa untuk menekan gulma, mencegah genangan, dan meminimalisir serangan keong sawah.
Program Sekolah Lapang Tematik terbukti meningkatkan hasil panen secara nyata. Berikut capaian demplot di beberapa desa:
Desa Cibeureum – Varietas Mapan PO5
Sebelum: 6,0 ton/ha, Sesudah: 9,5 ton/ha
Desa Linggaindah – Varietas Inpari 32
Sebelum: 6,0 ton/ha, Sesudah: 7,612 ton/ha
Desa Jambugeulis – Varietas BR Situbondo 2
Sebelum: 6,3 ton/ha, Sesudah: 8,2 ton/ha
Desa Cilimus – Varietas Inpari 40
Sebelum: 6,25 ton/ha, Sesudah: 8,5 ton/ha
Desa Timbang – Varietas Cianjur
Sebelum: 6,1 ton/ha, Sesudah: 8 ton/ha
Menurut Wahyu, data ini menjadi bukti kuat bahwa inovasi teknologi dan metode budidaya tepat guna adalah solusi nyata dalam menghadapi tantangan hama, perubahan iklim, dan penurunan kualitas lahan.
Rangkaian FFD juga meliputi proses panen dan penimbangan hasil ubinan. Metode ini memberi gambaran langsung kepada petani tentang efek perlakuan budidaya tertentu di demplot, sehingga dapat direplikasi pada lahan mereka masing-masing.
Dengan rangkaian kegiatan ini, Diskatan Kuningan terus memperkuat ketahanan pangan daerah, mendukung regenerasi petani, serta memperluas adopsi teknologi pertanian berkelanjutan untuk mewujudkan Kabupaten Kuningan MELESAT (Maju, Empowering, Lestari, Agamis, dan Tangguh).***












1 Komentar
Pendekatan lama adalah “demplot teknologi” (memperlihatkan varietas unggul, pupuk, alat mesin). Pendekatan baru yang dibutuhkan adalah “demplot iklim”, yaitu: Memperagakan bagaimana sebuah lahan pertanian, dengan memanfaatkan informasi iklim sebagai panduan utama, mampu bertahan dan tetap produktif di tengah ketidakpastian cuaca.
Dengan demikian, petani tidak hanya menjadi penerima pasif teknologi, tetapi menjadi pengambil keputusan yang cerdas dan adaptif berdasarkan informasi. Inilah inti dari pertanian yang tangguh menghadapi “pandemi iklim”.