VOXPOPULI.CO.ID – Kepala Puskesmas Ciwaru, Kabupaten Kuningan, Ibu Yuyu Yuningsih, S.ST., Bdn., memastikan seluruh siswa yang sebelumnya mendapat penanganan medis terkait dugaan gangguan kesehatan setelah menyantap program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah pulang.

Hal tersebut disampaikan Yuyu saat diwawancarai pada Selasa (15/09). Ia mengatakan hingga hari ini tidak terdapat penambahan siswa yang mengalami keluhan serupa.

“Selama ini hari ini sampai hari ini enggak ada penambahan,” ujar Yuyu.

Menurutnya, seluruh siswa yang sebelumnya menjalani pemeriksaan di Puskesmas Ciwaru telah diperbolehkan pulang. Bahkan, sebagian besar sudah meninggalkan Puskesmas sejak Senin sore.

“Sudah pulang semua. Dari kemarin juga kan sore sudah pulang,” katanya.

Meski kondisi para siswa sudah membaik, Yuyu menegaskan pihaknya masih melakukan pemantauan. Puskesmas juga telah menyiapkan tenaga kesehatan, termasuk bidan desa, untuk mengantisipasi apabila terdapat laporan tambahan mengenai siswa atau masyarakat yang mengalami keluhan.

“Kita pantau terus, insyaallah, biar cepat pada sembuh,” ujarnya.

Sementara itu, terkait dugaan keracunan MBG, Yuyu mengatakan hingga saat ini belum dapat dipastikan penyebab gangguan kesehatan yang dialami sejumlah siswa.

Sampel telah diambil dan dikirimkan untuk pemeriksaan laboratorium di Bandung. Namun, hasil pemeriksaan tersebut hingga Selasa (15/09) belum diterima.

“Sudah, kemarin itu langsung diantar ke Dinas Kesehatan. Terus dibawa ke Bandung. Karena sesuai SOP, untuk menjaga keakuratan hasil,” jelasnya.

Yuyu menegaskan hasil laboratorium diperlukan untuk memastikan penyebab kejadian tersebut. Karena itu, pihaknya belum dapat menyimpulkan apakah keluhan siswa benar-benar disebabkan oleh makanan MBG atau faktor lainnya.

“Kalau kita belum tahu bahwa itu dari daging atau dari apa. Sampelnya belum ada hasil,” katanya.

Dalam penanganan sebelumnya, petugas Puskesmas Ciwaru melakukan pemeriksaan terhadap siswa yang mengalami keluhan. Pemeriksaan meliputi keluhan kesehatan, tekanan darah, hingga pemeriksaan dokter.

Bagi siswa dengan gejala ringan, petugas memberikan obat sesuai keluhan seperti mual, pusing, muntah maupun sakit perut. Sementara siswa yang mengalami kondisi lemas mendapat tindakan medis berupa infus, suntikan dan oksigen.

“Tidak ada yang shock, alhamdulillah tidak ada yang berat,” ujar Yuyu.

Terkait makanan MBG yang dikonsumsi para siswa, termasuk daging olahan atau chicken katsu, Yuyu mengatakan pihaknya belum dapat memastikan bahan tertentu sebagai penyebab kejadian.

Ia menyebut SPPG Ciwaru 1 selama ini dinilai telah menjalankan prosedur dengan baik, termasuk dari sisi kebersihan.

“Kalau semuanya sesuai SOP, sebetulnya SPPG Ciwaru itu sangat bagus kalau kita lihat, kebersihannya,” katanya.

Namun, mengenai bahan makanan yang digunakan, khususnya daging olahan, Yuyu mengatakan masih diperlukan pemeriksaan lebih lanjut. Hasil laboratorium nantinya menjadi salah satu dasar untuk mengetahui penyebab sebenarnya.

Puskesmas Ciwaru sendiri memiliki jadwal monitoring terhadap SPPG secara berkala. Pemantauan dilakukan tiga bulan sekali dengan melibatkan tim yang terdiri dari kepala Puskesmas, tenaga gizi, kesehatan lingkungan, promosi kesehatan, dokter atau unsur terkait lainnya.

“Jadi tiga bulan sekali itu kita pantau,” ungkapnya.

Monitoring tersebut mencakup kebersihan, kandungan dan takaran gizi, serta aspek kesehatan lainnya. Bahkan, ke depan Puskesmas Ciwaru berencana melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap seluruh karyawan SPPG setiap tiga bulan.

“Ke depan itu tiga bulan akan melakukan cek tes kesehatan untuk semua karyawan SPPG,” jelas Yuyu.

Puskesmas Ciwaru juga tergabung dalam Satgas MBG tingkat kecamatan. Untuk bahan yang berasal dari supplier, Yuyu menjelaskan pemeriksaan awal dilakukan oleh tim SPPG, sementara Puskesmas melakukan pemantauan dan evaluasi sesuai kewenangannya.

“Yang terpenting diperiksa dulu oleh tim SPPG-nya. Kalau dirasa itu memang sehat, bagus, kami tidak terlalu intervensi ke situ, cuma kita pemantauan,” katanya.

Yuyu menyebut evaluasi terhadap SPPG ke depan akan dilakukan lebih ketat untuk mencegah terulangnya kejadian serupa.

Ia juga mengatakan kejadian kali ini merupakan pertama kalinya terjadi di SPPG Ciwaru 1 yang dikelola Yayasan Nurul Huda. Menurutnya, respons dari pihak SPPG, sekolah dan Puskesmas berlangsung cepat.

“Pertama kali dan cepat respons dari SPPG, dari sekolah dan kita juga cepat merespons,” ujarnya.

Mengenai adanya siswa yang mengalami keluhan sementara siswa lainnya tidak, Yuyu mengatakan faktor psikologis atau sugesti juga mungkin berperan. Ia mencontohkan seseorang dapat merasa mual setelah melihat orang lain muntah atau mendengar informasi mengenai dugaan keracunan.

“Namanya sugesti negatif,” katanya.

Meski demikian, Yuyu menegaskan Puskesmas tetap melakukan pemeriksaan medis terhadap setiap siswa yang mengalami keluhan dan tidak mengabaikan laporan yang masuk.

“Puskesmas itu tidak diam, karena kita enggak mau, enggak ingin kejadian kayak gini,” tegasnya.

Hingga Selasa (15/09), seluruh siswa yang sebelumnya mendapat penanganan telah pulang dan kondisi mereka dilaporkan aman. Sementara itu, penyebab pasti dugaan gangguan kesehatan tersebut masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium di Bandung.

Dengan demikian, dugaan keracunan akibat MBG di wilayah Ciwaru hingga kini belum dapat dipastikan. Hasil uji laboratorium akan menjadi bagian penting untuk mengungkap penyebab sebenarnya.***