
VOXPOPULI.CO.ID – Pemerintah Kabupaten Kuningan menyoroti kondisi pasokan dan harga sejumlah komoditas pangan di tengah cuaca kering yang berdampak terhadap sektor pertanian dan peternakan.
Hal tersebut disampaikan Wakil Bupati Kuningan, Hj. Tuti Andriani atau yang akrab disapa Amih Tuti, dalam High Level Meeting (HLM) Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD) se-Ciayumajakuning, Selasa (15/9/2026).
Kegiatan tersebut digelar di Hotel Luxton Cirebon dan menjadi forum koordinasi pengendalian inflasi daerah sekaligus penguatan digitalisasi dan elektronifikasi transaksi pemerintah daerah.
Dalam paparannya, Amih Tuti mengungkapkan stok daging ternak mengalami pengurangan di sejumlah penyetok. Kondisi ini menjadi perhatian karena kebutuhan daging untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga cukup besar.
“Stok daging ternak mengalami pengurangan dan cukup berkurang di beberapa penyetok,” kata Amih Tuti.

Menurutnya, harga daging saat ini mencapai sekitar Rp42.000. Pada saat yang sama, kebutuhan MBG terkadang menghadapi persoalan keterbatasan stok daging.
Kondisi tersebut menunjukkan persoalan stabilitas harga tidak hanya berkaitan dengan harga di tingkat konsumen, tetapi juga menyangkut kesinambungan pasokan dari produsen hingga kebutuhan program pemerintah.
Selain daging, Amih Tuti turut menyampaikan perkembangan harga telur. Para pengecer disebut membeli telur dari pengusaha telur atau kandang dengan harga sekitar Rp25.000. Sementara harga jual di tingkat pengecer berada di kisaran Rp25.500 hingga Rp26.000.
Persoalan lain yang menjadi perhatian adalah ketersediaan beras di Bulog. Beras yang disimpan sejak 2025 diperkirakan masih tersedia sekitar 3.000 ton.
Menurut Amih Tuti, kondisi tersebut perlu segera dicarikan solusi bersama. Sebab, semakin lama beras disimpan, kualitasnya berpotensi mengalami penurunan.
“Hal ini perlu dipecahkan bersama karena semakin lama disimpan, kadar kualitasnya akan turun,” ujarnya.

Di sisi lain, banyak pengusaha beras yang juga membutuhkan beras dengan kualitas standar tertentu. Kondisi tersebut dinilai dapat menjadi bagian dari solusi agar stok beras yang tersimpan tidak terlalu lama berada di gudang.
Untuk komoditas cabai merah, pasokan ke sejumlah pasar di Kuningan masih bergantung dari daerah luar Jawa Barat. Berdasarkan informasi Rumah Tani Indonesia, pasokan cabai merah untuk Pasar Jaga Satru dan Kuningan masih disuplai dari Jawa Timur dan Jawa Tengah.
Ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah menjadi tantangan tersendiri, terutama ketika produksi di sejumlah sentra pertanian mengalami gangguan akibat cuaca kering.
Dalam bahan paparan Pemkab Kuningan, Indeks Perkembangan Harga (IPH) Kuningan tercatat 2,61 pada minggu keempat Agustus, kemudian turun menjadi 1,14 pada minggu pertama September dan kembali turun menjadi 1,00 pada minggu kedua September.
Meski tekanan harga mulai mereda, pemerintah daerah tetap mewaspadai sejumlah komoditas. Beras, cabai rawit merah dan daging ayam ras disebut menjadi komoditas yang dalam beberapa pekan mengalami pergerakan harga di atas HET/HAP.
Sementara telur ayam ras dan cabai merah besar juga menjadi perhatian karena harganya fluktuatif meski masih berada di bawah HET/HAP.
Cuaca kering menjadi salah satu faktor yang turut memengaruhi kondisi tersebut. Amih Tuti menyebut cuaca kering saat ini sangat memengaruhi petani, pemilik usaha atau kandang, serta sektor pertanian secara keseluruhan di Kabupaten Kuningan.
“Cuaca kering saat ini sangat memengaruhi para petani, pemilik usaha/kandang, dan sektor pertanian secara keseluruhan di Kabupaten Kuningan,” katanya.
Dalam bahan paparan tersebut, sejumlah wilayah di Kuningan masuk kategori berpotensi terdampak kekeringan. Sentra padi yang perlu diwaspadai antara lain Kecamatan Darma, Luragung, Cidahu, Ciawigebang, Cipicung, Sindangagung dan Pancalang.
Sementara untuk komoditas hortikultura, wilayah yang menjadi perhatian antara lain Cigugur untuk aneka cabai, Ciawigebang untuk cabai rawit, Jalaksana untuk bawang merah, serta Kramatmulya untuk bawang merah dan aneka cabai.
Kecamatan Darma dan Cidahu bahkan disebut sudah mengalami kekeringan pada komoditas bawang merah dan aneka cabai.
Pemkab Kuningan telah menyiapkan sejumlah langkah untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan. Di antaranya mengoptimalkan tiga kios pengendalian inflasi, yakni Masagi Mart, Rumah Sayur dan Kunci Bunda.
Pemkab juga berkolaborasi dengan Bank Indonesia Cirebon melalui pipanisasi di Klaster Tunggul Rahayu, Desa Sagarahiang, sebagai sentra sayuran dan cabai.
Selain itu, pemerintah melaksanakan Gerakan Tanam Cabai dan sosialisasi budidaya cabai serta pemanfaatan lahan pekarangan melalui TP PKK Kabupaten Kuningan.
Pemkab juga menerbitkan surat edaran mengenai stabilisasi harga ayam ras hidup atau livebird dan mengoptimalkan pompanisasi pertanian.
Perumda Aneka Usaha (PDAU) juga disiapkan sebagai BUMD pangan untuk berkolaborasi dengan Bulog dan pemangku kepentingan lainnya dalam stabilisasi harga. Salah satu bentuknya melalui program PDAU Sapa Warga yang menyediakan bahan pangan pokok lokal ke desa-desa secara berkala.
Amih Tuti juga mendorong kolaborasi dengan Bank Indonesia terkait elektronifikasi di sejumlah wilayah Kabupaten Kuningan sebagai bagian dari penguatan pengendalian ekonomi daerah.
Menurut Amih Tuti, kerja sama antardaerah menjadi bagian penting untuk memastikan rantai pasok pangan tetap berjalan. Kuningan membutuhkan pasokan dari daerah lain, sementara daerah lain juga membutuhkan produksi dari Kuningan.
“Prinsipnya sederhana: produksi kita jaga, pasokan kita pastikan, distribusi kita lancarkan, dan masyarakat kita lindungi dari gejolak harga,” ujar Amih Tuti.
Ia berharap forum TPID dan TP2DD se-Ciayumajakuning tidak berhenti pada pembahasan, tetapi menghasilkan langkah konkret terkait daerah yang memiliki surplus maupun defisit, komoditas yang tersedia, waktu ketersediaan, hingga mekanisme distribusinya.
Di tengah tekanan cuaca kering dan kebutuhan pangan yang terus berjalan, pemerintah daerah dituntut memastikan ketersediaan komoditas strategis tetap terjaga. Terutama komoditas yang berkaitan langsung dengan kebutuhan masyarakat dan pelaksanaan program MBG.
Penguatan produksi lokal, distribusi antardaerah, optimalisasi cadangan pangan serta pemanfaatan Rumah Sayur menjadi bagian penting untuk menjaga keberlangsungan produksi petani sekaligus melindungi masyarakat dari gejolak harga.***












Tinggalkan Balasan