
KUNINGAN, (VOX) – Ratusan warga Desa Lengkong dan sekitarnya berkumpul di alun-alun desa pada Kamis, 19 Maret 2026. Mereka datang bukan sekadar berkumpul biasa, tetapi menjadi bagian dari tradisi yang sudah hidup puluhan tahun, yaitu genjring sahur, yang menandai momen terakhir membangunkan sahur bersama di penghujung Ramadan tahun ini.
Tradisi ini menjadi magnet kebersamaan. Suasana dini hari terasa hidup dengan irama genjring yang dimainkan berkelompok oleh warga, terutama para pemuda dari berbagai dusun.
Kepala Desa Lengkong, Irfan Fauzi, membenarkan bahwa kegiatan tersebut merupakan genjring sahur terakhir untuk tahun ini. Ia menjelaskan bahwa keputusan tersebut diambil berdasarkan kesepakatan bersama masyarakat.
“Betul, tadi dini hari disepakati menjadi hari terakhir genjring sahur di Desa Lengkong. Ini hasil kesepakatan bersama, walaupun belum ada keputusan resmi dari pemerintah, namun untuk antisipasi hari ini ditetapkan sebagai genjring terakhir,” ujarnya saat dikonfirmasi Vox.
Ia menegaskan bahwa tradisi ini bukan hal baru, melainkan sudah berlangsung sejak puluhan tahun lalu dan diwariskan lintas generasi.

“Alhamdulillah, ini tradisi desa kami sudah puluhan tahun, dari zaman bapak saya masih muda,” katanya.
Menurut Irfan, saat ini terdapat 12 kelompok genjring yang berasal dari berbagai mushola di blok dan dusun Desa Lengkong. Rata-rata setiap mushola memiliki dua kelompok yang aktif berpartisipasi.
Ia juga mengaku bangga terhadap peran pemuda desa yang terus menjaga tradisi ini di tengah perkembangan zaman yang semakin modern.
“Saya bangga dengan kepedulian pemuda yang masih melestarikan budaya ini. Walaupun zaman sudah maju, mereka tetap mau menjaga tradisi desa,” ungkapnya.
Lebih dari sekadar membangunkan sahur, tradisi genjring ini dinilai memiliki nilai sosial yang kuat. Kegiatan tersebut menjadi wadah silaturahmi antar pemuda serta mempererat rasa persaudaraan di lingkungan masyarakat.
“Ini sangat bermanfaat, selain membangunkan warga, juga menjadi ajang silaturahmi pemuda desa kami. Ini memupuk rasa persaudaraan dan bisa menghindari hal-hal negatif,” tambahnya.
Irfan berharap tradisi genjring sahur ini tidak berhenti sampai di generasi sekarang, melainkan terus dilestarikan oleh generasi berikutnya sebagai bagian dari identitas budaya Desa Lengkong.***









Tinggalkan Balasan