KUNINGAN,(VOX) – Fenomena hujan es dilaporkan terjadi di wilayah Kecamatan Maleber, Kabupaten Kuningan, Kamis (05/03/2026). Peristiwa cuaca ekstrem tersebut sempat mengejutkan warga karena butiran es turun bersamaan dengan hujan deras, angin kencang, dan kilatan petir.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kuningan, Indra Bayu Permana yang akrab disapa IBE, menjelaskan bahwa fenomena tersebut merupakan kejadian alam yang dapat terjadi pada masa peralihan musim.

Menurut IBE, hujan es berkaitan erat dengan pembentukan awan Cumulonimbus yang menjulang tinggi di atmosfer. Awan jenis ini dikenal sering memicu cuaca ekstrem seperti hujan lebat, angin kencang hingga petir.

“Menurut teori BMKG, hujan es terjadi karena adanya awan Cumulonimbus yang sangat tinggi. Di dalam awan itu butiran air terbawa arus udara naik lalu membeku dan terus membesar sebelum akhirnya jatuh ke permukaan bumi sebagai es,” kata IBE, Kamis (05/03/2026).

Ia menjelaskan bahwa proses tersebut dimulai dari udara panas dan lembap di permukaan yang naik dengan cepat sehingga membentuk awan Cumulonimbus. Di bagian atas awan yang memiliki suhu sangat dingin, butiran air kemudian berubah menjadi kristal es.

Kristal es tersebut terus bergerak naik turun di dalam awan karena adanya arus udara kuat. Pergerakan berulang itu membuat ukuran butiran es semakin membesar hingga akhirnya tidak lagi mampu ditahan oleh arus udara di dalam awan.

“Ketika ukurannya sudah cukup besar dan berat, butiran es akan jatuh ke permukaan bumi terbawa aliran udara turun atau downdraft yang kuat. Karena prosesnya cepat, es tersebut tidak sempat mencair sebelum mencapai tanah,” jelasnya.

IBE juga menyebutkan bahwa hujan es biasanya terjadi secara lokal dan hanya berlangsung dalam waktu singkat. Meski begitu, fenomena tersebut kerap disertai hujan deras, petir, dan angin kencang yang berpotensi menimbulkan kerusakan.

“Tanda-tandanya biasanya diawali udara yang terasa panas dan gerah pada siang hari. Setelah itu muncul awan putih bertumpuk yang berubah menjadi gelap, lalu tiba-tiba angin kencang disertai hujan deras,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa kejadian hujan es relatif sering muncul pada masa pancaroba, yakni saat peralihan musim kemarau menuju musim hujan atau sebaliknya.

BPBD Kuningan mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat terjadi secara tiba-tiba. Warga diminta segera mencari tempat aman jika hujan es terjadi untuk menghindari risiko cedera atau kerusakan.

“Jika terjadi hujan es, masyarakat sebaiknya segera berlindung di dalam rumah atau bangunan yang aman. Kendaraan juga sebaiknya dimasukkan ke tempat tertutup agar tidak mengalami kerusakan,” Pungkasnya.

Selain itu masyarakat juga diingatkan untuk selalu memantau informasi cuaca resmi dari BMKG sebagai langkah antisipasi menghadapi potensi cuaca ekstrem di wilayah Kabupaten Kuningan.***