Oleh: Fery Rizkiana Tri Putra, S. Hut., Aktivis Kuningan

KUNINGAN, (VOX) – Menjelang Musyawarah Daerah Komite Nasional Pemuda Indonesia di Kabupaten Kuningan, satu pertanyaan mendasar mengemuka. Apakah forum ini akan menjadi momentum kebangkitan organisasi atau justru sekadar seremoni lima tahunan yang kembali mengukuhkan stagnasi.

Sejak didirikan pada 1973, KNPI dirancang sebagai ruang temu organisasi kepemudaan untuk merumuskan agenda kolektif generasi muda. Secara historis, perannya strategis. KNPI pernah menjadi kanal koordinasi gagasan, kritik, sekaligus energi sosial politik pemuda. Namun dalam beberapa tahun terakhir, denyut itu terasa melemah, khususnya di tingkat daerah.

Kevakuman dan fragmentasi internal membuat KNPI kehilangan daya representatifnya. Alih alih menjadi rumah besar organisasi kepemudaan, arah geraknya dinilai lebih terserap pada urusan legalitas dan dinamika internal. Dalam konteks Kuningan, kondisi ini memunculkan jarak antara organisasi dan realitas yang dihadapi pemuda.
Padahal tantangan generasi muda hari ini tidak ringan. Disrupsi teknologi, kecerdasan buatan, ekonomi digital, krisis iklim, hingga tingginya angka pengangguran membutuhkan respons organisasi yang progresif. Pemuda membutuhkan wadah yang mampu membaca perubahan, bukan sekadar mengulang pola lama.

Organisasi pemuda seharusnya hadir membicarakan AI, ekonomi kreatif, transisi energi, dan ruang partisipasi politik yang sehat. Jika hanya sibuk dengan urusan internal, maka ia akan tertinggal oleh zamannya, demikian pandangan yang berkembang di kalangan aktivis kepemudaan.

Fenomena ini berdampak langsung pada pola partisipasi generasi muda. Banyak pemuda kini memilih bergerak melalui komunitas independen, inkubator bisnis, forum digital, dan gerakan akar rumput yang dinilai lebih inklusif dan adaptif. Mereka mencari ruang yang cair, kolaboratif, dan responsif terhadap isu kekinian.
Kondisi tersebut menimbulkan persoalan serius. Ketika organisasi formal melemah, maka saluran aspirasi pemuda dalam kebijakan publik ikut tereduksi. Pemerintah daerah kehilangan mitra strategis yang solid untuk merumuskan kebijakan berbasis perspektif generasi muda.

Musyda KNPI Kuningan 2026 menjadi titik krusial. Forum ini bukan sekadar memilih ketua baru. Ia adalah momentum untuk mendefinisikan ulang arah gerak organisasi. Apakah KNPI akan mereformasi diri, merangkul kembali organisasi kepemudaan, serta membangun agenda yang relevan dengan masa depan. Ataukah tetap terjebak dalam konflik dan rutinitas administratif.

Pemuda Kuningan membutuhkan representasi yang sahih dan kuat. Mereka membutuhkan kepemimpinan yang tidak alergi pada kritik, berani membuka ruang kolaborasi, dan mampu menjadikan KNPI sebagai laboratorium gagasan pembangunan daerah.

Ini bukan hanya soal kursi kepemimpinan, tetapi soal mandat sejarah. KNPI harus kembali menjadi motor gerakan pemuda, bukan sekadar simbol organisasi.

Sejarah panjang KNPI memberi fondasi legitimasi. Namun legitimasi tanpa relevansi hanya akan menjadi arsip. Masa depan organisasi ini kini berada di tangan para pemuda Kuningan sendiri. Antara meleset dari harapan generasi atau melesat menjadi episentrum kebangkitan gagasan.
Musyda kali ini akan menjadi ujian. Bukan hanya bagi calon nahkoda, tetapi bagi kesadaran kolektif pemuda tentang pentingnya memiliki wadah yang sehat, terbuka, dan berpandangan jauh ke depan.***

Deskripsi Iklan Anda