VOXPOPULI.CO.ID – Wakil Ketua Bidang Politik Persatuan Alumni GMNI Kuningan, Yusup Dandi Asih, mengajak masyarakat menjadikan Bulan Bung Karno sebagai momentum refleksi terhadap arah perjalanan bangsa. Peringatan terhadap sosok Proklamator Indonesia tidak cukup berhenti pada seremoni, tetapi harus diwujudkan melalui pelaksanaan nilai-nilai perjuangan yang diwariskannya.

Refleksi yang berjudul “Ketika Indonesia Menjauh dari Jalan Bung Karno”, Indonesia saat ini menghadapi tantangan besar dalam menjaga tiga pilar utama yang selama ini menjadi cita-cita Bung Karno, yakni berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan.

Persoalan kemiskinan tidak semata dapat diukur melalui angka statistik. Realitas yang dirasakan masyarakat jauh lebih penting, mulai dari tingginya harga kebutuhan pokok, sulitnya memperoleh pekerjaan, menurunnya daya beli, hingga terbatasnya kesempatan memperoleh kehidupan yang layak.

Pertumbuhan ekonomi belum sepenuhnya dinikmati secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat. Ketika kesenjangan sosial semakin melebar, Hal tersebut menjadi tanda bahwa arah pembangunan perlu terus dievaluasi.

Selain persoalan ekonomi, isu kedaulatan bangsa. Kedaulatan tidak hanya berarti menjaga wilayah negara dari ancaman militer, tetapi juga memastikan sumber daya alam, pangan, energi, air, teknologi, hingga kebijakan strategis nasional benar-benar berada dalam kendali bangsa sendiri dan berpihak kepada kepentingan rakyat Indonesia.

Negara yang kaya sumber daya tetapi kehilangan kendali atas aset-aset strategis sesungguhnya sedang menghadapi tantangan serius terhadap kedaulatannya.

Semangat nasionalisme saat ini menghadapi ujian. Kecintaan terhadap tanah air tidak boleh berhenti pada simbol-simbol kebangsaan semata, melainkan harus diwujudkan melalui praktik penyelenggaraan negara yang menjunjung keadilan sosial, memberantas korupsi, serta mengutamakan kepentingan nasional di atas kepentingan kelompok.

Mengutip semangat perjuangan Bung Karno, bahwa tantangan setelah kemerdekaan tidak kalah berat dibanding perjuangan merebut kemerdekaan. Musuh bangsa, tidak hanya datang dalam bentuk ancaman fisik, tetapi juga berupa kemiskinan, ketimpangan, korupsi, ketergantungan ekonomi, serta lunturnya rasa memiliki terhadap Indonesia.

Kecenderungan perdebatan politik yang lebih banyak berfokus pada simbol dibanding substansi. Padahal, ketahanan nasional hanya dapat dibangun melalui kebijakan yang berpihak kepada kesejahteraan rakyat.

Negara tidak akan menjadi kuat apabila petani masih hidup dalam kemiskinan, nelayan terpinggirkan, buruh belum memperoleh perlindungan memadai, pemuda kesulitan mendapatkan pekerjaan, serta generasi muda kehilangan kebanggaan terhadap bangsanya sendiri.

Konsep berdikari yang diwariskan Bung Karno tetap relevan hingga saat ini. Indonesia, perlu memperkuat industri nasional, menjaga ketahanan pangan dan energi, mengelola sumber daya alam secara adil, serta memastikan hasil pembangunan benar-benar kembali untuk kesejahteraan rakyat.

Seluruh elemen bangsa untuk tidak sekadar menjadikan Bung Karno sebagai ikon sejarah, melainkan mengimplementasikan gagasan-gagasannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Apabila kemiskinan terus meningkat, kedaulatan semakin melemah, dan nasionalisme terus memudar, maka Indonesia sedang menghadapi tantangan besar terhadap ketahanan bangsa.

Semua pihak harus sadar dan mengingat kembali pesan Bung Karno, “Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah (Jas Merah).” Cita-cita para pendiri bangsa harus tetap menjadi kompas dalam menentukan arah masa depan Indonesia.***