Oleh: Rizki Nugraha/Ilmu Lingkungan-UNIKU

KUNINGAN, (VOX) – Gunung Ciremai bukan sekadar simbol geografis tertinggi di Jawa Barat, melainkan jantung ekologis yang menentukan keberlangsungan hidup jutaan masyarakat di wilayah sekitarnya. Kawasan pegunungan ini berfungsi sebagai daerah hulu Daerah Aliran Sungai bagi Kabupaten Kuningan, Majalengka, Cirebon, dan wilayah hilir lainnya. Dari lereng dan hutan Ciremai, air hujan ditangkap, disimpan, lalu dialirkan secara alami untuk memenuhi kebutuhan pertanian, rumah tangga, hingga industri.

Sebagai hulu DAS, kondisi ekologis Gunung Ciremai sangat menentukan kualitas dan kuantitas air. Daerah Aliran Sungai merupakan satu kesatuan ekosistem yang dibatasi oleh punggung pegunungan, berfungsi menampung dan mengalirkan air hujan menuju sungai utama hingga ke muara. Ketika kawasan hulu rusak, maka wilayah hilir akan menanggung akibatnya secara langsung. Kerusakan di atas selalu berujung bencana di bawah.

Sayangnya, kawasan hulu Gunung Ciremai kini berada dalam tekanan serius. Pembabatan hutan yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir telah menggerus tutupan vegetasi yang berfungsi sebagai penahan air dan pengikat tanah. Penebangan pohon dan pembukaan lahan tanpa prinsip konservasi membuat tanah kehilangan daya serapnya, sehingga air hujan tidak lagi tersimpan, melainkan langsung mengalir deras ke hilir.

Dampaknya sudah bisa dirasakan. Risiko erosi dan longsor meningkat di kawasan lereng, sementara wilayah hilir semakin rentan terhadap banjir saat musim hujan dan kekeringan saat kemarau. Seorang pemerhati lingkungan di Kuningan menyatakan, “Jika hutan di hulu Ciremai terus berkurang, maka krisis air hanya tinggal menunggu waktu. Alam selalu mencatat, dan ia menagih dengan caranya sendiri.”

Situasi ini menunjukkan bahwa persoalan Gunung Ciremai bukan hanya isu lingkungan, tetapi juga isu sosial dan ekonomi. Ketika air berkurang, pertanian terganggu, konflik perebutan sumber daya meningkat, dan ketahanan wilayah menjadi rapuh. Oleh karena itu, menjaga hulu DAS berarti menjaga stabilitas kehidupan masyarakat secara luas.
Rehabilitasi dan reboisasi hutan di kawasan yang rusak menjadi langkah yang tidak bisa ditawar. Penanaman kembali pohon-pohon dengan fungsi ekologis tinggi sebagai penyerap air dan penahan erosi harus dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan. Namun, penanaman tanpa pengawasan hanya akan menjadi proyek seremonial tanpa dampak jangka panjang.

Pengawasan ketat terhadap pembalakan liar dan alih fungsi lahan juga mutlak diperlukan. Pemerintah daerah bersama aparat penegak hukum harus menunjukkan keberpihakan yang jelas terhadap kelestarian kawasan hulu DAS. Seorang aktivis lingkungan menegaskan, “Tanpa penegakan hukum yang tegas, rehabilitasi hanya akan menjadi tambal sulam atas kerusakan yang terus berulang.”

Di sisi lain, pengelolaan DAS secara berkelanjutan perlu melibatkan masyarakat sekitar hutan. Pendekatan yang mengintegrasikan aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi seperti agroforestri dan pertanian ramah lingkungan dapat menjadi solusi agar masyarakat tetap memiliki sumber penghidupan tanpa merusak hutan.

Gunung Ciremai sebagai hulu DAS adalah benteng terakhir ketahanan air di wilayah timur Jawa Barat. Menjaganya bukan pilihan, melainkan keharusan. Jika kawasan ini gagal dilindungi, maka yang dipertaruhkan bukan hanya hutan dan sungai, tetapi masa depan generasi yang akan datang.***