
KUNINGAN, (VOX) – Duka mendalam masih menyelimuti keluarga YM (22), penyandang disabilitas tuna wicara asal Kecamatan Mandirancan, Kabupaten Kuningan, yang diduga menjadi korban tindak kekerasan seksual di Brebes hingga akhirnya meninggal dunia.
Sebagai bentuk kepedulian, Bunda Ela selaku Ketua TP PKK Kabupaten Kuningan mengunjungi langsung rumah duka keluarga korban. Dalam kunjungan tersebut, ia memberikan dukungan moril kepada keluarga yang hingga kini masih terpukul atas kejadian tragis yang menimpa putri mereka.
Di saat bersamaan, Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar juga melakukan video call dengan pihak keluarga korban untuk menyampaikan rasa prihatin dan belasungkawa secara langsung. Dalam komunikasi tersebut, Bupati menyampaikan bahwa dirinya saat itu sedang dalam perjalanan menuju Jakarta untuk agenda kedinasan sehingga belum dapat hadir langsung ke rumah duka.
“Kami turut prihatin dan berduka atas musibah yang dialami almarhumah. Pemerintah daerah akan memberikan perhatian dan pendampingan kepada keluarga,” ujar Bupati dalam sambungan video call tersebut.
Berdasarkan keterangan kakak kandung almarhumah, korban diketahui baru sekitar satu tahun bekerja di sebuah pabrik sepatu di wilayah Brebes. Namun selama tiga hari, pihak keluarga kehilangan kontak dan tidak dapat berkomunikasi dengannya.
Karena merasa khawatir, pacar korban berinisial G akhirnya memutuskan menyusul korban ke Brebes dan mendatangi kamar kos tempat YM tinggal. Saat pintu kamar dibuka, korban ditemukan dalam kondisi tidak sadarkan diri tanpa busana. Keluarga juga mendapati adanya bercak muntahan, kotoran serta darah di lokasi.
G kemudian menghubungi keluarga dan memperlihatkan kondisi korban melalui sambungan video call.

“Saya tahu dari pacarnya video call pas sampai di sana dan memperlihatkan kondisi adik saya yang tidak sadarkan diri dan tanpa busana,” ujar kakak korban kepada Vox melalui sambungan telepon, Jumat (22/5/2026).
Korban kemudian dibawa pulang ke Kabupaten Kuningan dan menjalani perawatan di RS Sidawangi. Selama dirawat, keluarga melihat kondisi psikologis korban sangat terguncang. Korban disebut mengalami trauma berat dan histeris setiap kali melihat laki-laki mendekat.
Menurut keterangan keluarga, korban sempat mengungkapkan bahwa dirinya dicekoki obat oleh rekan kerjanya sesama penyandang disabilitas di perusahaan tersebut.
“Adik saya katanya dicekoki obat oleh temannya,” ujar pihak keluarga.
Pihak keluarga juga menyampaikan bahwa korban sempat memberikan isyarat terkait dugaan tindak kekerasan seksual yang dialaminya. Namun demikian, dugaan tersebut saat ini masih dalam proses penyelidikan aparat kepolisian.
Setelah sempat menjalani perawatan dan dipulangkan ke rumah, kondisi korban terus menurun hingga akhirnya meninggal dunia pada 7 Mei 2026. Saat ini kasus tersebut telah dilaporkan ke pihak kepolisian di wilayah Brebes.
Untuk tindak lanjut kasus, keluarga mengaku mendapat informasi bahwa terduga pelaku berinisial R diduga telah melarikan diri. Padahal, menurut keluarga, yang bersangkutan sebelumnya sempat diperiksa oleh aparat penegak hukum dan diduga mengakui perbuatannya saat proses interogasi.
“Kami dapat informasi dari perusahaan tempat adik bekerja kalau R sudah beberapa hari tidak masuk. Kami juga kaget dan kecewa karena R sudah mengakui ketika diinterogasi oleh APH,” ujarnya.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak kepolisian maupun perusahaan terkait perkembangan penanganan perkara tersebut. Keluarga korban berharap proses hukum dapat berjalan secara objektif dan seluruh pihak yang diduga terlibat segera dimintai keterangan sesuai ketentuan hukum yang berlaku.***












Tinggalkan Balasan