KUNINGAN, (VOX) – Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar mengunjungi korban dugaan pengeroyokan yang terjadi di wilayah Caracas, Kecamatan Cilimus Kabupaten Kuningan, Senin (11/05).

Korban diketahui berinisial FNH, seorang remaja berusia 15 tahun yang mengalami luka di bagian tangan, punggung dan kepala akibat dugaan aksi kekerasan oleh sekelompok oknum suporter klub tertentu.

Berdasarkan keterangan keluarga, korban beruntung segera mendapat pertolongan dari warga sekitar sehingga tidak mengalami luka serius.

Dalam kunjungannya, Bupati Kuningan sempat berbincang langsung dengan korban untuk mengetahui kronologi kejadian yang dialami korban.

Menurut keterangan korban, saat itu dirinya tengah diminta orang tuanya untuk membeli bensin ke SPBU Cilimus sekaligus membeli sayuran. Namun di tengah perjalanan, korban tiba-tiba ditendang oleh sekelompok orang yang sedang melakukan konvoi.

Setelah terjatuh, korban disebut mengalami pemukulan menggunakan helm hingga mengakibatkan luka di sejumlah bagian tubuh. Selain itu, motor milik korban juga mengalami kerusakan.

Pihak keluarga kemudian melaporkan kejadian tersebut ke pihak kepolisian. Awalnya keluarga diarahkan oleh pihak Polsek untuk melapor ke Polres Kuningan. Karena korban masih berstatus anak di bawah umur, penanganan kasus dilakukan oleh Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Kuningan.

Bupati Dian Rachmat Yanuar menyampaikan rasa prihatin atas kejadian yang menimpa korban. Ia berharap peristiwa serupa tidak kembali terjadi di Kabupaten Kuningan.

“Saya prihatin atas kejadian ini dan berharap kejadian seperti ini tidak terjadi lagi di Kabupaten Kuningan,” ujarnya.

Ia juga meminta aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas kasus tersebut dan segera menangkap para pelaku.

Menurutnya, mencintai klub sepak bola merupakan hal yang wajar, namun tidak boleh dilakukan secara berlebihan hingga menimbulkan tindakan kekerasan dan merugikan masyarakat lain.

Bupati juga meminta aparat keamanan bertindak tegas terhadap aktivitas nonton bareng maupun konvoi yang berujung pada tindakan anarkis dan gangguan keamanan.

“Silakan mencintai klub sepak bola, tapi jangan sampai melakukan hal-hal yang tidak kita inginkan. Jika ada nobar atau konvoi yang berujung onar, harus ditindak secara hukum,” tegasnya.***