VOXPOPULI.CO.ID – Momentum Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah dimanfaatkan Pemerintah Kabupaten Kuningan untuk melakukan refleksi pembangunan daerah melalui kegiatan Sarasehan Tokoh bertema “Hijrah Peradaban Kuningan: Menjaga Tradisi, Menguatkan Harmoni, Membangun Generasi” yang digelar di Pendopo Kabupaten Kuningan, Kamis malam (25/6). Kegiatan tersebut menghadirkan unsur ulama, akademisi, budayawan, serta berbagai tokoh masyarakat sebagai bagian dari upaya merumuskan arah pembangunan daerah yang lebih berkelanjutan. Tema kegiatan tersebut tercantum dalam susunan acara resmi peringatan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 H.

Dalam keynote speech bertajuk “Kuningan Sedang Hijrah ke Mana?”, Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar menegaskan bahwa tantangan pembangunan saat ini jauh lebih kompleks dibanding masa lalu. Menurutnya, masyarakat kini menghadapi perubahan sosial yang sangat cepat, perkembangan teknologi yang melampaui batas geografis, pergeseran pola pikir generasi muda, hingga derasnya arus informasi yang tidak selalu sejalan dengan nilai-nilai kebaikan.

Dian menilai kemajuan suatu daerah tidak cukup hanya diukur melalui pembangunan fisik dan capaian statistik. Ia menegaskan bahwa pembangunan yang hakiki harus berjalan beriringan dengan penguatan karakter, kebijaksanaan, dan pelestarian identitas budaya lokal. Oleh karena itu, tema besar yang diusung dalam peringatan Muharram tahun ini menjadi arah pembangunan yang harus dijalankan bersama oleh seluruh elemen masyarakat.

“Menjaga tradisi bukan berarti menolak kemajuan. Tradisi adalah akar yang membuat kita tetap berdiri kokoh di tengah perubahan zaman. Kita ingin anak-anak Kuningan tumbuh dengan mengenal sejarahnya, mencintai budayanya, dan bangga menjadi bagian dari tanah kelahirannya,” ujar Dian.

Selain menjaga tradisi, Bupati juga menekankan pentingnya membangun harmoni sosial di tengah keberagaman masyarakat. Menurutnya, pembangunan yang paling mahal bukanlah pembangunan infrastruktur fisik, melainkan pembangunan kepercayaan atau trust di antara seluruh komponen masyarakat. Karena itu, Kuningan harus menjadi rumah bersama yang nyaman bagi ulama, akademisi, budayawan, pemuda, dan seluruh lapisan masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut, Dian mengingatkan bahwa seluruh proses pembangunan pada akhirnya bermuara pada satu tujuan besar, yakni menyiapkan masa depan generasi penerus. Ia berharap lahir generasi Kuningan yang memiliki kemampuan intelektual tinggi, berakhlak mulia, mampu bersaing secara global, namun tetap berpijak kuat pada identitas lokal dan nilai-nilai budaya daerah.

Ia juga menjelaskan alasan mengundang para alim ulama, akademisi, dan budayawan dalam satu forum strategis. Menurutnya, pemerintah tidak dapat berjalan sendiri dalam membangun daerah. Pemerintah membutuhkan pandangan spiritual dari ulama, kedalaman pemikiran akademisi, serta sensitivitas budaya dari para budayawan agar kebijakan pembangunan mampu menjawab kebutuhan masyarakat secara komprehensif.

“Pada hari ini saya hadir bukan untuk mendiktekan semua jawaban. Saya hadir untuk mendengar gagasan, kritik yang konstruktif, dan harapan dari para tokoh yang selama ini menjadi penjaga moral, ilmu pengetahuan, dan identitas masyarakat Kuningan,” tegasnya.

Momentum Muharram tahun ini juga menjadi lebih istimewa karena bertepatan dengan keberhasilan Kabupaten Kuningan kembali meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI setelah sebelumnya memperoleh opini Wajar Dengan Pengecualian (WDP). Dian menyebut capaian tersebut sebagai bentuk hijrah tata kelola pemerintahan menuju arah yang lebih baik, transparan, dan akuntabel.

“Alhamdulillah hari ini Kuningan kembali dianugerahi opini Wajar Tanpa Pengecualian. Ini merupakan hasil kerja keras bersama dalam memperbaiki sistem dan tata kelola keuangan daerah. Saya yakin capaian ini tidak terlepas dari doa, nasihat, dan dukungan para ulama, akademisi, tokoh masyarakat, serta seluruh warga Kuningan,” ungkapnya.

Menutup sambutannya, Dian mengajak seluruh peserta untuk melakukan refleksi mendalam mengenai warisan yang akan ditinggalkan bagi generasi mendatang. Ia menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan tidak semata diukur dari jalan atau gedung yang dibangun, melainkan dari kemampuan menciptakan masyarakat yang berbudaya, memiliki empati sosial, serta mampu menjaga harmoni kehidupan.

“Mari kita hijrah dari sekadar membangun fasilitas yang kasat mata menuju pembangunan peradaban. Hijrah dari ego sektoral menuju kolaborasi total. Hijrah dari kebiasaan mencari kesalahan orang lain menuju kebiasaan mengintrospeksi diri. Mari kita jaga tradisi, kuatkan harmoni, dan bangun generasi demi Kuningan yang lebih bermartabat dan semakin melesat,” pungkasnya.***