CIREBON, (VOX) – Hujan deras yang mengguyur wilayah Cirebon Barat menyebabkan banjir di sejumlah titik dan berlangsung berturut-turut. Genangan air muncul dengan ketinggian bervariasi, dari setinggi mata kaki hingga mencapai betis orang dewasa, memicu keresahan warga yang terekam dalam berbagai siaran langsung media sosial tiktok. Dalam beberapa live tersebut, warga terdengar kompak memanggil nama Pa Dedi, sapaan untuk Dedi Mulyadi Gubernur Jabar, sebagai bentuk harapan agar Pemerintah Provinsi Jawa Barat segera turun tangan menangani banjir yang dinilai berulang dan tak kunjung tuntas.

Wawancara Vox dengan admin akun TikTok Plered_jeh yang menyiarkan langsung kondisi banjir menemukan sejumlah fakta lapangan yang memperjelas penyebab. Admin Plered_jeh menegaskan bahwa dirinya hanya menyampaikan pengamatan visual dan kondisi di lapangan, tanpa menyimpulkan atau menuding wilayah tertentu sebagai penyebab banjir.

Menurutnya, banjir di Cirebon Barat lebih kuat dipicu oleh faktor lokal, seperti penyempitan sungai, tumpukan sampah, serta jaringan irigasi dan drainase yang tidak berfungsi maksimal. “Yang terlihat di lapangan, sungai menyempit, sampah banyak, dan air tidak cepat mengalir. Itu yang bikin banjir,” ujarnya kepada Vox.

Perbedaan ketinggian genangan air tampak jelas di beberapa titik. Di kawasan By Pass Cirebon, genangan hanya setinggi mata kaki. Sementara di wilayah Plered, air mencapai betis orang dewasa. Namun, kondisi menarik terlihat di sekitar jembatan, di mana air di saluran bawah justru tidak setinggi genangan di perumahan di atasnya. Hal ini terjadi karena posisi perumahan yang lebih tinggi serta buruknya aliran air lingkungan, sehingga air terjebak dan meluap ke permukiman.

“Air di bawah jembatan tidak setinggi di atas. Jadi bukan karena sungainya meluap besar, tapi karena aliran airnya tersendat,” jelasnya.

Kondisi berbeda terlihat di kawasan muara Kecamatan Mundu, tepatnya di area parkir perahu nelayan. Dari siaran langsung yang dilakukan, memang terjadi kenaikan debit air, namun dalam skala kecil dan tidak signifikan. Wilayah tersebut tidak menunjukkan genangan luas seperti yang terjadi di Plered dan lokasi lainnya di Cirebon Barat.

“Di muara ada kenaikan air, tapi kecil dan tidak sampai menggenang,” ungkap admin Tiktok Wong Edan.

Fakta lapangan ini memunculkan kembali pertanyaan publik terkait narasi yang selama ini kerap menyebut wilayah Kuningan sebagai penyebab banjir di Cirebon. Jika banjir disebabkan oleh kiriman air besar dari hulu, maka kawasan muara seharusnya menjadi wilayah paling terdampak. Namun, realitas di lapangan menunjukkan kondisi yang berbeda, di mana genangan justru lebih parah di wilayah dengan persoalan drainase dan sungai yang tidak terkelola optimal.

Hal ini juga dibuktikan dengan munculnya genangan air di Jalan Pemuda dekat Kampus UGJ, hal ini disebabkan oleh saluran air yang mampet dan intensitas hujan yang tinggi serta lama. “Iyah bang deres bangett, Ini juga lagi hujan nii, Belum reda dari tadii Kalau penyebab kurang paham bang, di sini juga drainasenya mampet.” ujar rekan media cirebon kepada vox, Jumat (26/12, 19:00).


Pemanggilan nama gubernur dalam siaran live warga mencerminkan akumulasi kekecewaan kepada pemda setempat sekaligus harapan agar penanganan banjir tidak lagi bersifat reaktif. Warga berharap adanya langkah konkret dari pemerintah provinsi dan daerah, mulai dari normalisasi sungai, pembenahan drainase, hingga penanganan serius persoalan sampah yang memperparah banjir saat hujan deras turun.

Dengan banjir yang terjadi beruntun dan pola genangan yang tidak merata, peristiwa ini menjadi sinyal kuat bahwa persoalan banjir di Cirebon Barat merupakan masalah struktural di wilayah hilir.

Fakta-fakta lapangan yang disampaikan warga melalui siaran langsung memperjelas bahwa pembenahan internal wilayah menjadi kunci, sekaligus menuntut evaluasi ulang terhadap narasi lama yang selama ini menyederhanakan penyebab banjir hanya pada faktor hulu seperti Kuningan.***