KUNINGAN, (VOX) – Kuningan kembali menaruh ingatannya pada sosok almarhum H. Sukardi Kartapermata, figur yang tidak hanya dikenal sebagai ayah dari Bupati Kuningan, Dr. Dian Rachmat Yanuar, M.Si, tetapi sebagai pendidik dan penggerak nilai-nilai keagamaan yang membekas dalam perjalanan masyarakat. Cerita yang disampaikan tokoh muda Kuningan, Alan Suwgiri, pada Kamis (27/11/2025) memperlihatkan bagaimana almarhum meninggalkan warisan moral, gagasan, dan keteladanan yang jauh melampaui posisinya di ruang publik.

Alan menggambarkan almarhum sebagai pribadi yang hangat dan sepenuh hati mengabdikan hidupnya untuk pendidikan. Ia pernah memimpin GP Ansor Kuningan, sementara sang istri tercatat sebagai pimpinan Fatayat pada masanya. Keduanya dikenal sebagai pasangan yang hidup dengan nilai pengabdian dan tanggung jawab sosial, menjadikan rumah mereka sebagai ruang yang menanamkan etika sekaligus empati.

Salah satu kenangan yang paling melekat dalam ingatan Alan adalah pesan almarhum kepada putranya, saat itu Bupati Dian masih menjabat Kepala Dinas Pendidikan. Pesan sederhana yang kemudian berubah menjadi arah kebijakan: bahwa pendidikan tidak boleh menjadi penghalang bagi santri untuk melangkah lebih jauh. “Beliau berpesan, manfaatkan jabatan untuk membantu pesantren. Banyak santri pintar, tapi terhalang ijazah. Dari sanalah lahir ide PKBM di pesantren,” ujar Alan.

Gagasan itu tidak berhenti sebagai percakapan. Di Parakan, Cipicung, dan sejumlah titik lainnya, PKBM mulai hadir di lingkungan pesantren, memberi akses formal pendidikan tanpa mencabut para santri dari tradisi belajar kitab kuning. Sebuah jembatan antara tradisi dan masa depan, yang lahir dari kepekaan seorang pendidik bernama H. Sukardi.

Dalam ingatan Alan, almarhum bukan hanya tokoh yang dihormati, tetapi dirasakan kehadirannya. Ia menggambarkan sosok almarhum sebagai pribadi yang lembut dalam tutur namun kuat dalam prinsip. Tidak suka menonjolkan diri, tetapi menjadi tempat pulang banyak orang yang membutuhkan nasihat dan keteduhan. “Beliau itu seperti jimat bagi keluarganya. Simbol keteduhan,” katanya.

Dalam dunia politik, almarhum juga dikenal memiliki kedewasaan berpikir. Meski menjadi salah satu deklarator PKB di Kuningan, ia selalu menanamkan nilai bahwa politik hanyalah bagian kecil dari pengabdian. Setelah Pilkada, ia menasihati Bupati Dian agar tetap menjaga hubungan dan berkhidmat kepada Nahdlatul Ulama sebagai rumah besar yang harus dihormati, terlepas dari dinamika kontestasi.

Alan juga menceritakan bagaimana almarhum tetap mengikuti perkembangan Kabupaten Kuningan meski tidak lagi memegang jabatan publik. Kerendahan hati, kesabaran, dan ketawadhuan selalu hadir dalam setiap sikapnya. Nilai-nilai itu, kata Alan, menjadi warisan paling berharga bagi anak-anaknya. “Menurut saya, keberhasilan Pak Dian hari ini tidak lepas dari doa almarhum sebagai orang tua. Ada keberkahan yang almarhum tinggalkan,” ucapnya.

Bagi Alan, dan bagi banyak orang yang pernah merasakan ketulusan almarhum, H. Sukardi Kartapermata bukan hanya dihargai karena kiprah atau jabatannya. Ia dikenang karena caranya menghadirkan kebaikan dalam keseharian: sederhana, praktis, tetapi penuh makna. Hingga kini, jejak itu tetap hidup sebagai pendidik, pengayom, tokoh keagamaan, sekaligus ayah yang menanamkan nilai-nilai kebaikan yang terus berlanjut lewat generasi berikutnya.***