VOXPOPULI.CO.ID – Wakil Kepala Sekolah (Wakasek) SMK Pertiwi, Darajat Subagja, S.Kom., mengungkap pihak sekolah baru mengetahui adanya kasus penganiayaan terhadap seorang pelajar yang melibatkan salah satu siswanya pada Sabtu malam.

Hal tersebut disampaikan Darajat saat ditemui dalam wawancara di SMK Pertiwi, Senin (14/9).

Menurut Darajat, pihak sekolah sebelumnya tidak mengetahui adanya kejadian tersebut. Informasi mengenai kasus itu justru diketahui setelah pemberitaan mengenai kejadian tersebut beredar.

“Jujur, kami dari kejadian tanggal 7 baru tahu Sabtu malam. Nggak tahu sama sekali,” ujar Darajat.

Setelah mengetahui bahwa siswa yang diduga terlibat merupakan siswa SMK Pertiwi, pihak sekolah langsung melakukan langkah awal dengan mendatangi rumah siswa tersebut.

Darajat mengatakan, dirinya kemudian berupaya melakukan konfirmasi kepada keluarga siswa. Setelah itu, pada Senin pagi pihak sekolah juga mendatangi rumah korban untuk melihat secara langsung kondisinya.

“Tadi pagi saya langsung ke sana dan sudah lihat kondisi korban juga, dan memberikan santunan ke korban juga dari sekolah,” katanya.

Darajat mengaku prihatin setelah melihat kondisi korban. Namun, pada hari yang sama, siswa yang diduga terlibat dalam kasus tersebut datang bersama orang tuanya ke sekolah untuk mengundurkan diri.

Menurutnya, keputusan tersebut kemungkinan berkaitan dengan tekanan mental yang dialami siswa setelah kasus tersebut menjadi perhatian publik.

“Si anak tadi pagi mengundurkan diri, Pak, dengan orang tuanya ke sini,” ungkapnya.

Ia menyebut siswa tersebut mengundurkan diri sekitar pukul 09.00 atau 10.00 WIB.

“Si anak merasa sendiri mungkin, gitu. Jadi si anak tadi pagi tuh mengundurkan diri,” ujarnya.

Darajat juga menegaskan bahwa ketika kejadian berlangsung, siswa tersebut masih berstatus sebagai siswa SMK Pertiwi. Namun, terkait langkah atau sikap resmi sekolah setelah siswa tersebut mengundurkan diri, Darajat memilih tidak memberikan keterangan lebih jauh dan menyerahkannya kepada kepala sekolah.

“Kalau sudah ke ranah itu, mungkin nanti Pak Kepala yang menyampaikan, Pak, ya? Kalau saya takut salah berkomentar,” katanya.

Terkait informasi adanya mediasi antara keluarga korban dan keluarga siswa yang diduga sebagai pelaku, Darajat menegaskan bahwa proses tersebut bukan dilakukan oleh pihak sekolah.

Menurut informasi yang ia terima dari keluarga, mediasi dilakukan secara kekeluargaan dengan melibatkan aparat desa dari kedua pihak. Mediasi tersebut disebut berlangsung di wilayah Sembawa.

“Bukan sekolah justru. Jadi aparat desa dengan aparat desa, malah katanya mediasi itu di Sembawa,” jelasnya.

Darajat kembali menegaskan bahwa pihak sekolah baru mengetahui perkara tersebut setelah pemberitaan beredar pada Sabtu malam.

“Makanya setelah tahu, ‘Oh, ini anak SMK Pertiwi nih’, Pak Fajar langsung berangkat ke rumah pelaku dulu,” katanya.

Di sisi lain, Darajat menyampaikan bahwa SMK Pertiwi selama ini telah melakukan pembinaan kepada siswa berbagai persoalan kenakalan remaja, termasuk tawuran, narkoba, bullying, serta tindakan yang dapat merugikan siswa maupun lingkungan sekolah.

Pembinaan tersebut dilakukan melalui wali kelas, bidang kesiswaan, maupun kegiatan bersama seluruh siswa.

“Selalu ke kelas-kelas, kita langsung yang ke kelas dari kesiswaan atau dari wali kelas. Atau pas kita kumpulkan di GOR, kita suka kumpulkan di GOR untuk pembinaan agar jangan terlibat provokasi tawuran, narkoba, segala macam, bullying,” ungkapnya.

Menurut Darajat, kejadian tersebut akan menjadi bahan evaluasi bagi sekolah untuk meningkatkan pembinaan dan pengawasan terhadap siswa.

Ia mengatakan, pihak sekolah akan lebih intensif melakukan pendekatan kepada siswa sekaligus memperkuat kerja sama dengan orang tua.

“Kita jadikan inilah pelajarannya, Pak, supaya tidak terjadi ini lagi. Kita lebih intens lagi ke anak-anak, melalui wali kelas, bekerja sama dengan orang tua siswa,” tuturnya.

Darajat menambahkan, pembinaan tersebut juga sejalan dengan arahan pemerintah mengenai pencegahan bullying dan penguatan karakter pelajar.

“Kalau kita memberikan imbauan, segala macam, itu sudah, sesuai arahan dari Pak Gubernur kan tidak boleh ada bullying, segala macam, apalagi dengan Pancasila yang membangun karakter,” pungkasnya.

Kasus penganiayaan terhadap pelajar tersebut kini menjadi perhatian publik. Pihak sekolah menyatakan akan menjadikan kejadian tersebut sebagai pembelajaran untuk memperkuat pembinaan karakter, pencegahan bullying, serta kerja sama antara sekolah dan orang tua siswa.***