Oleh: Rifky Setia Nugraha, Sekertaris Cabang GMNI Kuningan
KUNINGAN, (VOX) – Ada kalimat legendaris dari Soekarno yang terus diputar ulang di panggung sejarah bangsa ini. Ia pernah berkata bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang pemudanya berani bermimpi dan berjuang mewujudkannya. Kalimat itu bukan sekadar retorika revolusioner. Itu mandat moral. Itu alarm. Itu tamparan bagi generasi yang mulai nyaman dalam diam.
Di atas kertas, Komite Nasional Pemuda Indonesia atau KNPI dibentuk untuk menjawab mandat tersebut. Sebagai rumah besar organisasi kepemudaan, KNPI dirancang menjadi ruang temu gagasan, laboratorium kepemimpinan, sekaligus mesin konsolidasi energi muda.
Namun di Kabupaten Kuningan, idealisme itu terasa kian menjauh dari realitas.
KNPI Kuningan hari ini dinilai kehilangan daya dobraknya. Aktivitas substantif yang menyentuh isu kerakyatan jarang terdengar. Diskursus strategis tentang pendidikan, pengangguran muda, ekonomi kreatif, hingga partisipasi politik generasi baru seolah tenggelam. Organisasi yang semestinya menjadi katalis justru tampak pasif. Publik bertanya, apakah KNPI masih menjadi rumah perjuangan atau sekadar papan nama.
Seorang aktivis pemuda di Kuningan menyebut kondisi ini sebagai situasi stagnasi yang mengkhawatirkan. Ia mengatakan bahwa KNPI seharusnya hadir sebagai jembatan, bukan sekadar simbol. Menurutnya, jika wadah pemuda tidak mampu mengonsolidasikan energi kolektif, maka potensi hanya akan terpecah menjadi gerakan sporadis tanpa arah.
Menjelang Musyawarah Daerah, harapan akan lahirnya regenerasi justru dibayangi isu yang mengganggu. Indikasi adanya skema pengkondisian elit dan pola titipan kepentingan menjadi perbincangan di kalangan OKP. Jika benar proses regenerasi sudah disusun rapi demi kepentingan kelompok tertentu, maka Musda bukan lagi forum demokrasi, melainkan panggung formalitas.
Seorang pengamat organisasi kepemudaan di Kuningan menyatakan bahwa demokrasi internal adalah fondasi kredibilitas. Ia menegaskan bahwa ketika proses pemilihan pemimpin sudah ditentukan sejak awal, maka organisasi kehilangan legitimasi moralnya.
Demokrasi yang direkayasa hanya akan melahirkan kepemimpinan yang rapuh.
Di sinilah ironi itu terasa tajam. Bung Karno berbicara tentang keberanian pemuda mengambil tanggung jawab masa depan. Namun yang terjadi justru kekhawatiran bahwa ruang kaderisasi dibatasi oleh kepentingan pragmatis. Jika laboratorium kepemimpinan berubah menjadi arena transaksi, maka generasi muda sedang diajarkan politik tanpa idealisme.
KNPI Kuningan berada di persimpangan. Ia bisa kembali pada khitah sebagai wadah perjuangan lintas golongan, atau tenggelam dalam rutinitas organisasi tanpa roh. Musda semestinya menjadi momentum evaluasi total, bukan sekadar pergantian nama di struktur kepengurusan.
Pemuda Kuningan tidak kekurangan energi. Mereka aktif di komunitas, di ruang digital, di gerakan sosial, dan di sektor ekonomi kreatif. Yang dibutuhkan adalah ruang konsolidasi yang bersih dan inklusif. Tanpa itu, cita-cita besar hanya akan menjadi kutipan pidato yang kehilangan makna kontekstual.
Sejarah menunjukkan bahwa perubahan selalu lahir dari kegelisahan generasi muda. Jika KNPI ingin tetap relevan, ia harus membuka diri terhadap kritik, memulihkan demokrasi internal, dan kembali memosisikan diri sebagai representasi kolektif, bukan kepanjangan tangan kepentingan sempit.
Mimpi besar tentang pemuda sebagai penentu arah bangsa tidak pernah mati. Ia hanya menunggu keberanian untuk diwujudkan. Di Kuningan, momentum itu ada di depan mata. Pertanyaannya bukan lagi siapa yang memimpin, melainkan untuk siapa kepemimpinan itu dijalankan.***





Tinggalkan Balasan