
KUNINGAN, (VOX) – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menegaskan bahwa pendidikan anak usia dini merupakan fondasi paling menentukan dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia. Penegasan tersebut disampaikan dalam agenda Refleksi Milad Muhammadiyah bertema Memajukan Kesejahteraan Bangsa yang digelar di Universitas Muhammadiyah Kuningan, Sabtu (20/12/2020), yang sekaligus dirangkaikan dengan peresmian TK Labschool Muhammadiyah serta pembangunan SD Aisyiyah Kuningan.
Dalam forum tersebut, Abdul Mu’ti menekankan bahwa investasi terbesar bangsa bukan sekadar infrastruktur fisik, melainkan manusia yang berkualitas sejak usia dini. Menurutnya, pengalaman pendidikan pada masa PAUD berpengaruh besar terhadap kesiapan belajar, rasa percaya diri, dan karakter anak di jenjang pendidikan berikutnya. “Kalau fondasinya kuat, bangunannya tidak mudah roboh. Pendidikan anak usia dini adalah fondasi itu,” ujar Abdul Mu’ti di hadapan civitas akademika dan tamu undangan.
Tidak hanya menyampaikan arah kebijakan nasional, Abdul Mu’ti juga menunjukkan perhatian konkret terhadap kebutuhan di daerah. Ia menyatakan komitmennya untuk membantu Aisyiyah Kuningan yang membutuhkan pembangunan pagar sekolah dengan nilai sekitar Rp50 juta. Bantuan tersebut, kata dia, merupakan bentuk dukungan nyata terhadap terciptanya lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan layak bagi anak-anak. “Pendidikan bukan hanya soal kurikulum dan guru, tapi juga lingkungan. Anak-anak harus belajar di tempat yang aman dan terlindungi,” katanya.
Abdul Mu’ti mengapresiasi peran Muhammadiyah yang telah memasuki usia 113 tahun dan terus konsisten hadir di tengah masyarakat melalui kerja-kerja pendidikan, kesehatan, sosial, dan kemanusiaan. Ia menyebut Muhammadiyah sebagai contoh organisasi yang mampu memadukan iman dengan amal nyata, serta tidak terjebak pada retorika semata. Menurutnya, kekuatan Muhammadiyah justru terletak pada kemampuannya memberikan solusi konkret atas persoalan umat dan bangsa.
Dalam pidatonya, Abdul Mu’ti juga menyinggung pengakuan internasional terhadap Muhammadiyah Disaster Management Center yang telah memenuhi standar Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO. Ia menyebut capaian tersebut sebagai bukti bahwa kerja-kerja kemanusiaan Muhammadiyah tidak hanya diakui di tingkat nasional, tetapi juga di level global. “Ini menunjukkan bahwa ormas keagamaan Indonesia mampu berkontribusi bagi kemanusiaan dunia,” ujarnya.
Dari sisi kebijakan pendidikan, Abdul Mu’ti menegaskan komitmen pemerintah dalam menjalankan program wajib belajar 13 tahun yang dimulai dari taman kanak-kanak. Mulai 2026, Program Indonesia Pintar akan diperluas untuk peserta didik TK dengan skema penyaluran langsung ke rekening penerima. Selain itu, pemerintah juga menyiapkan peningkatan kualitas guru melalui beasiswa S1 dan D4, pelatihan berkelanjutan, serta percepatan sertifikasi guru. Ia mengingatkan bahwa peningkatan kesejahteraan guru harus dibarengi dengan peningkatan kinerja dan mutu pembelajaran di kelas.

Ia juga memaparkan program revitalisasi satuan pendidikan secara nasional, baik pembangunan sekolah baru maupun renovasi sekolah yang sudah ada, dengan prioritas wilayah terdampak bencana. Menurutnya, negara tidak boleh membiarkan anak-anak kehilangan hak belajar hanya karena kondisi darurat. “Dalam situasi apa pun, pendidikan harus tetap berjalan dan negara wajib hadir,” tegasnya.
Acara tersebut dihadiri Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar bersama Wakil Bupati Kuningan Tuti Andriani, Wakil Ketua DPRD Kuningan Ujang Kosasih, serta anggota DPR RI Komisi XII Rokhmat Ardiyan. Kehadiran pimpinan daerah tersebut menegaskan dukungan pemerintah daerah terhadap penguatan pendidikan dan peran Muhammadiyah di Kabupaten Kuningan.
Turut hadir pula Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat Pimpinan Pusat Muhammadiyah M. Nurul Yamin, Rektor UM Kuningan Wawang Anwarudin, Ketua PWM Jawa Barat Ahmad Dahlan, serta Ketua PDM Kuningan Dadan Rahmatun Ramdan, bersama unsur Forkopimda, pimpinan persyarikatan, dosen, mahasiswa, dan tamu undangan lainnya.
Menutup pidatonya, Abdul Mu’ti menegaskan bahwa Muhammadiyah dan Aisyiyah akan terus menjadi mitra strategis pemerintah dalam membangun manusia Indonesia yang berkarakter, berdaya saing, dan berkeadilan sosial. Ia menekankan bahwa pendidikan yang kuat hanya bisa terwujud melalui sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan organisasi kemasyarakatan. “Iman yang kokoh harus melahirkan amal yang nyata. Pendidikan adalah jalannya, dan kerja bersama adalah kuncinya,” pungkasnya.***









Tinggalkan Balasan