KUNINGAN, (VOX) – Pemerintah Kabupaten Kuningan kembali menegaskan arah besarnya pada agenda pelestarian lingkungan yang berbasis ekologi nyata. Kamis sore, (11/12) langkah itu muncul dalam bentuk penebaran 150 benih ikan dewa di kawasan Situs Kebon Balong Ki Buyut Sangkan Desa Sangkanurip sebuah ruang yang selama ini dikenal sebagai sumber air melimpah sekaligus titik penting konservasi lokal.
Bupati Kuningan Dr. H. Dian Rachmat Yanuar M.Si., memimpin langsung prosesi penebaran dan menempatkan kegiatan ini sebagai praktik ekologis bukan sekadar ritual budaya. Dalam penjelasannya kepada wartawan ia menyampaikan komitmen yang cukup tegas. “Ini adalah manifestasi hubungan manusia dengan Sang Pencipta melalui pemeliharaan alam. Kami ingin menegaskan bahwa pelestarian ikan dewa di sini murni untuk tujuan ekologis bukan karena mitos. Kita ingin generasi muda melihat langsung bagaimana alam harus dirawat” ujar Dian.
Pendekatan ekologis itulah yang membuat kawasan Sangkanurip mendapat sorotan positif. Kepala Desa Sangkanurip menggarisbawahi bahwa Kebon Balong memiliki debit air melimpah sehingga secara biologis sangat memungkinkan untuk menjadi habitat alami ikan dewa. Ia menilai inisiatif ini lahir dari kesadaran bersama setelah melihat banyak bencana ekologis yang terjadi di berbagai daerah lain. “Kami belajar dari banyaknya bencana di luar daerah akibat kerusakan alam. Karena itu di sini kami sangat ketat menjaga kawasan konservasi air bahkan tidak ada yang berani menebang pohon sembarangan” kata Kades.
Benih ikan yang didatangkan dari Pemalang Jawa Tengah itu diharapkan mampu beradaptasi dan berkembang biak sehingga menciptakan rantai konservasi baru yang tidak berhenti di seremoni penebaran. Pemerintah daerah melihatnya sebagai kanal edukasi jangka panjang untuk publik bahwa ekosistem yang sehat berasal dari keputusan kebijakan yang konsisten dan tindakan kecil yang dilakukan terus menerus.
Gerakan sederhana ini memperlihatkan bagaimana pelestarian bisa bergerak dari level lokal tanpa drama. Kuningan mendorong narasi baru tentang konservasi berbasis tindakan nyata. Langkah yang tampak kecil ini biasanya menjadi benih untuk kebijakan yang lebih besar.***





Tinggalkan Balasan