
Oleh : Abah SKH
Asalamualaikum.Sampurasun.
Gunung Ciremai bukan sekadar puncak yang menjulang di batas langit Kuningan, tetapi simbol budaya, sejarah, dan spiritualitas Sunda yang adilinuhung. Setiap lerengnya menyimpan jejak peradaban, setiap sungainya membawa cerita karuhun, dan setiap hembusan anginnya menghadirkan nilai-nilai kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun. Bagi masyarakat Kuningan dan Majalengka, Ciremai bukan hanya gunung tetapi ibu yang mengasuh, menjaga, dan memberikan kehidupan.
Dalam diam, Ciremai adalah gunung vulkanik aktif yang terus tumbuh dan bergerak, sekaligus mengingatkan bahwa alam memiliki kehendaknya sendiri. Pertumbuhan itu menjadi cermin bahwa peradaban manusia pun harus berkembang tanpa meninggalkan akar budaya. Menurut Abah SKH, mewariskan Ciremai kepada generasi mendatang bukan pilihan, tetapi amanat. Amanat untuk menjaga ekosistemnya, memuliakan kebudayaannya, serta melestarikan hutan dan sumber airnya sumber kehidupan yang menghidupi masyarakat Kuningan, Majalengka, Indramayu, hingga Cirebon.
Air yang mengalir dari Ciremai bukan sekadar kebutuhan dasar, tetapi fondasi peradaban. Tanah subur, pangan yang tumbuh, dan oksigen yang berlimpah adalah berkah yang harus dijaga, bukan dikorbankan. Karena Ciremai adalah peradaban itu sendiri. Merawat Ciremai berarti merawat masa depan incu putu.

Melalui pesannya, Abah SKH mengajak seluruh elemen masyarakat, pemerintah pusat maupun daerah, khususnya masyarakat Kuningan, untuk menjadikan pelestarian Ciremai sebagai hukum pasti. Hukum yang tidak boleh dinegosiasikan dan harus dijalankan secara kolektif. Ia menegaskan bahwa menjaga hutan dan mata air, menghormati batas ekologis, serta memaknai kembali relasi manusia dan alam sebagai hubungan yang saling menghidupkan adalah kewajiban moral dan budaya.
Dengan merawat Ciremai hari ini, kata Abah SKH, kita sedang memastikan bahwa generasi esok masih dapat mewarisi gunung yang sama agungnya seperti yang kita kenal hari ini. Ia mengutip pribahasa kolot Sunda, “Gunung teu meunang dilebur, lebak teu meunang diruksak, lojong ulah dipotong, pondok ulah disambung,” sebagai pesan bahwa alam tidak boleh diganggu karena kelestarian hanya lahir dari penghormatan terhadap batas-batasnya.
“Cag rampes. Salam lestari rahayu sagung dumadi. Wasalam,” pesan Abah SKH menutup seruannya sebuah ajakan untuk menjadikan Ciremai bukan sekadar warisan, tetapi amanah suci yang harus dijaga bersama.***












Tinggalkan Balasan