VOXPOPULI.CO.ID – Pembangunan Jalan Lingkar Timur Selatan (JLTS) Kabupaten Kuningan terus dikebut sebagai salah satu proyek infrastruktur strategis yang diproyeksikan menjadi pengungkit utama pertumbuhan ekonomi daerah dalam jangka panjang.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Kabupaten Kuningan, I Putu Bagiasna, menegaskan bahwa JLTS bukan hanya sekadar pembangunan ruas jalan baru untuk mengurangi kepadatan lalu lintas di pusat kota, tetapi merupakan investasi masa depan yang akan menentukan arah perkembangan ekonomi Kabupaten Kuningan selama puluhan tahun mendatang.

Menurut Putu, dalam perspektif ekonomi pembangunan dan tata ruang modern, infrastruktur jalan memiliki fungsi yang jauh lebih luas dibanding sekadar sarana transportasi. Jalan merupakan instrumen strategis yang mampu menciptakan efisiensi ekonomi, memperluas akses investasi, mempercepat distribusi barang dan jasa, serta membuka ruang tumbuh bagi pusat-pusat ekonomi baru.

“JLTS bukan hanya membangun jalan. Ini adalah investasi jangka panjang yang akan meningkatkan produktivitas daerah, memperkuat konektivitas wilayah, memperluas peluang investasi, serta menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif bagi masyarakat Kabupaten Kuningan,” ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (24/06).

Putu bahkan mengibaratkan JLTS sebagai “tol ekonomi” baru bagi Kabupaten Kuningan. Meski secara teknis berbeda dengan jalan tol nasional, dampak ekonomi yang ditimbulkan diyakini memiliki prinsip yang sama, yakni meningkatkan aksesibilitas dan menurunkan biaya transportasi yang selama ini menjadi salah satu faktor penghambat pertumbuhan ekonomi.

“Kalau jalan tol menjadi urat nadi ekonomi nasional, maka JLTS akan menjadi urat nadi baru pertumbuhan ekonomi Kabupaten Kuningan. Skala dan bentuknya memang berbeda, tetapi manfaat ekonominya sangat besar bagi daerah,” katanya.

Ia menjelaskan, berbagai studi ekonomi transportasi menunjukkan bahwa pembangunan koridor jalan baru hampir selalu diikuti peningkatan aktivitas ekonomi di kawasan yang dilalui. Kemudahan akses menjadi daya tarik utama bagi investor untuk menanamkan modalnya.

Fenomena tersebut terlihat di banyak daerah yang dilalui jalan tol. Kawasan yang sebelumnya kurang berkembang berubah menjadi pusat perdagangan, jasa, kawasan industri, hingga sentra pertumbuhan ekonomi baru. Menurut Putu, pola serupa berpotensi terjadi di sepanjang koridor JLTS.

Secara akademis, kondisi tersebut dikenal sebagai economic corridor effect atau efek koridor ekonomi, yakni munculnya aktivitas ekonomi baru akibat meningkatnya konektivitas dan aksesibilitas suatu wilayah.

Keberadaan JLTS diperkirakan akan mendorong tumbuhnya kawasan perdagangan baru, pusat jasa, pergudangan, kawasan hunian, sentra UMKM, hingga kawasan pendukung pariwisata yang tersebar di wilayah timur dan selatan Kabupaten Kuningan.

Selain itu, JLTS juga akan memberikan dampak langsung terhadap efisiensi logistik daerah. Arus distribusi barang yang selama ini harus melewati pusat kota akan menjadi lebih lancar sehingga biaya operasional transportasi dapat ditekan.

Dalam jangka panjang, kondisi tersebut akan meningkatkan daya saing pelaku usaha lokal, mempercepat perputaran ekonomi masyarakat, serta memperluas peluang investasi yang masuk ke Kabupaten Kuningan.

Dari sisi tata ruang, JLTS akan berfungsi sebagai instrumen pemerataan pembangunan. Pertumbuhan ekonomi tidak lagi terpusat di kawasan perkotaan, melainkan dapat menyebar ke wilayah-wilayah yang selama ini belum berkembang secara optimal.

Sektor pariwisata juga diyakini akan memperoleh manfaat besar dari keberadaan jalan lingkar tersebut. Akses menuju berbagai destinasi wisata akan semakin mudah dan nyaman, sehingga mampu meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan sekaligus memperkuat ekosistem ekonomi kreatif dan UMKM lokal.

“Pariwisata membutuhkan aksesibilitas yang baik. Ketika akses semakin mudah, maka mobilitas wisatawan meningkat, investasi tumbuh, dan manfaat ekonominya akan dirasakan langsung oleh masyarakat,” jelasnya.

Lebih jauh, Putu menilai JLTS akan menjadi fondasi penting dalam menyongsong transformasi ekonomi Kabupaten Kuningan di tengah perkembangan kawasan Rebana dan meningkatnya persaingan antar daerah dalam menarik investasi.

Karena itu, pembangunan JLTS tidak boleh dipandang hanya sebagai proyek konstruksi semata, melainkan sebagai strategi pembangunan jangka panjang yang akan menentukan posisi Kuningan dalam peta pertumbuhan ekonomi Jawa Barat.

“Manfaat terbesar JLTS bukan hanya kelancaran lalu lintas, tetapi kemampuannya menciptakan nilai ekonomi baru. Jalan ini akan menjadi koridor pertumbuhan yang menghubungkan potensi-potensi ekonomi Kuningan agar berkembang lebih cepat, lebih luas, dan lebih kompetitif,” tegas Putu.

Dengan berbagai manfaat strategis tersebut, Jalan Lingkar Timur Selatan diproyeksikan menjadi salah satu proyek infrastruktur paling penting dalam sejarah pembangunan Kabupaten Kuningan, sekaligus menjadi motor baru bagi investasi, perdagangan, pariwisata, dan kesejahteraan masyarakat di masa depan.***