KUNINGAN – Pernyataan Presiden yang menyebut masyarakat desa tidak terdampak pelemahan rupiah karena tidak menggunakan dolar menuai kritik keras dari kalangan mahasiswa. Kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Kabupaten Kuningan, Samsul, menilai ucapan tersebut sebagai pernyataan yang keliru, tidak sensitif, dan menunjukkan kebingungan pemerintah dalam membaca realitas ekonomi rakyat kecil.

Menurut Samsul, memang benar masyarakat desa tidak melakukan transaksi menggunakan dolar secara langsung. Namun pelemahan rupiah tetap memberikan dampak nyata terhadap kehidupan masyarakat, terutama petani dan peternak kecil yang bergantung pada kebutuhan produksi berbasis impor.

“Kehidupan masyarakat desa memang memakai rupiah, bukan dolar. Tapi ketika dolar naik, harga pupuk, pestisida, obat pertanian, hingga biaya produksi ikut naik. Dampaknya jelas terasa di sawah dan pasar,” ujar Samsul kepada vox via whatsapp, Senin (18/05).

Ia menjelaskan, kenaikan nilai dolar menyebabkan harga pupuk dan pestisida ikut meningkat karena sebagian bahan bakunya masih berasal dari impor. Kondisi tersebut membuat biaya tanam petani semakin mahal, sementara harga hasil panen belum tentu naik secara seimbang.

Selain itu, pelemahan rupiah juga memengaruhi harga BBM dan biaya distribusi hasil pertanian. Solar untuk traktor dan pompa air menjadi lebih mahal. Ongkos pengangkutan hasil panen naik, begitu juga biaya sewa alat pertanian yang semakin memberatkan petani kecil.

Menurutnya, dampak tersebut paling dirasakan masyarakat desa yang memiliki keterbatasan modal usaha. Keuntungan petani semakin tipis karena pengeluaran terus meningkat.

Tidak hanya sektor pertanian, Samsul juga menyoroti kondisi peternak kecil yang ikut terdampak akibat naiknya harga pakan ternak. Harga jagung, gandum, dan bungkil kedelai sangat dipengaruhi pasar global sehingga ketika dolar menguat, biaya pakan ikut melonjak.

Akibat kondisi tersebut, harga kebutuhan pokok seperti telur, daging, cabai, bawang, hingga beras ikut terdorong naik di pasaran. Masyarakat desa pun tetap merasakan dampak pelemahan rupiah melalui kenaikan kebutuhan hidup sehari-hari.

“Pernyataan seperti itu tidak pantas keluar dari seorang kepala negara. Jangan seolah-olah rakyat desa tidak memahami kondisi ekonomi. Mereka mungkin tidak memegang dolar, tetapi mereka setiap hari merasakan dampak naiknya harga kebutuhan hidup,” tegasnya.

PMII menilai pemerintah seharusnya lebih fokus menghadirkan solusi nyata terhadap tekanan ekonomi masyarakat dibanding melontarkan pernyataan yang dianggap menyederhanakan persoalan. Sebab bagi rakyat kecil, pelemahan rupiah bukan hanya angka di layar televisi, tetapi persoalan yang benar-benar dirasakan di sawah, pasar, kandang ternak, hingga meja makan keluarga.***