KUNINGAN, (VOX) – Menindaklanjuti kunjungan Bupati Kuningan bersama dinas terkait ke lokasi banjir di Desa Cisantana, Kecamatan Cigugur, Camat Cigugur, Yono Rahmansyah memastikan akan segera mengumpulkan para pengelola wisata dan pelaku usaha yang berada di kawasan hulu.

Langkah tersebut dilakukan sebagai tindak lanjut arahan Bupati Kuningan setelah banjir limpasan air kembali terjadi di kawasan wisata Palutungan dan Cisantana.

Dalam wawancara vox dengan Camat Cigugur, Yono Rahmansyah mengatakan terdapat banyak faktor penyebab banjir seperti yang sebelumnya disampaikan Kepala Dinas PUPR Kabupaten Kuningan, Putu Bagiasna.

“Nanti dari desa yang mengundang, insyaAllah besok akan dikumpulkan di Balai Desa Cisantana sesuai arahan dari Bupati Kuningan,” ujar Yono Rahmansyah via telp kepada vox, Selasa (19/05).

Menurutnya, forum tersebut akan menjadi momentum untuk menumbuhkan kesadaran lingkungan di kawasan wisata dan permukiman sekitar hulu.

“Nanti dalam forum akan ditekankan kesadaran lingkungan. Kalau ada solokan mampet ya segera ditindaklanjuti, jangan menunggu pemerintah turun dengan segala keterbatasannya,” katanya.

Ia menegaskan para pemilik dan pengelola tempat wisata juga harus memiliki kepedulian terhadap kondisi lingkungan sekitar, terutama sistem drainase.

“Warga terutama pemilik dan pengelola tempat wisata harus peduli akan lingkungan sekitar. Sudah kondisi drainasenya sempit, curah hujan tinggi, mampet lagi ya pasti banjir lah. Kalau sudah banjir kan pemilik usaha pasti akan dirugikan juga,” ungkapnya.

Yono juga mengaku sempat berdialog dengan sesepuh desa saat meninjau lokasi banjir. Dari keterangan warga, banjir sebesar sekarang disebut tidak pernah terjadi meski hujan deras pernah turun pada masa lalu.

“Tadi saya sempat bertanya ke sesepuh desa, jawabannya sesuai yang diprediksi. Dulu curah hujan tinggi juga pernah lebih dari hari ini, tapi tidak terjadi seperti sekarang,” jelasnya.

Ia turut mengungkapkan bahwa pada malam sebelumnya limpasan air kembali terjadi ketika kawasan hulu diguyur hujan deras.

“Tadi malam juga terjadi lagi. Jadi air itu tidak masuk ke selokan, mengalirnya malah di jalan. Ada beberapa titik yang memang jalan lebih rendah,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi diperparah dengan tidak adanya “boyoran” atau saluran pengalih air menuju lahan pertanian sehingga air langsung meluap ke jalan dan permukiman.

“Ditambah lagi sekarang sedang tidak ada boyoran mengalihkan air ke ladang jadi tumpah semua ke situ. Yang dekat masjid apalagi sangat tinggi limpahannya,” tambahnya.

Yono juga tidak menampik adanya persoalan berkurangnya daya serap kawasan hulu akibat berbagai faktor. Namun menurutnya, hal tersebut perlu dibahas lebih lanjut bersama Dinas Lingkungan Hidup dan Taman Nasional Gunung Ciremai agar ditemukan akar masalah serta solusi jangka panjang.

“Memang ada kekurangan daya serap kawasan hulu karena berbagai hal, nanti akan dibicarakan dengan DLH dan TNGC agar ditemukan sumber masalah dan solusinya,” pungkasnya.

Peristiwa banjir di kawasan wisata Cisantana dan Palutungan kini menjadi perhatian serius berbagai pihak, terutama terkait tata ruang kawasan hulu, drainase lingkungan, hingga dampak pembangunan wisata terhadap kondisi ekologis lereng Gunung Ciremai.***