
Oleh: O. Mujahidin – Ketua Democracy and Electoral Empowerment Partnership (DEEP) Kabupaten Kuningan
Ketika isu penetapan U Kusmana sebagai salah satu kandidat kuat Sekretaris Daerah Kabupaten Kuningan semakin menguat, pertanyaan publik pun mengemuka: siapa yang paling layak melanjutkan tongkat kepemimpinan Dinas Pendidikan (Disdik) Kuningan?
Sebagai pemerhati kebijakan publik dan pendidikan, saya melihat bahwa dinamika ini bukan sekadar soal rotasi jabatan. Ini adalah momentum penting untuk memastikan arah pendidikan daerah tidak kehilangan “roh” yang telah dibangun dalam beberapa tahun terakhir, khususnya di bawah gagasan Panca Waluya yang menjadi spirit pendidikan Kuningan.
Beberapa waktu lalu, dua nama sempat mencuat di kalangan birokrasi: Wahyu Hidayah dan Elon Carlan.Keduanya memiliki kapasitas dan pengalaman, tidak diragukan lagi. Namun dalam konteks kesinambungan kebijakan dan kebutuhan sinergi dengan arah pembangunan Jawa Barat di bawah Gubernur Kang Dedi Mulyadi (KDM), saya menilai ada satu figur yang paling ideal Toto Toharudin, Kepala Dinas Sosial saat ini
Penilaian ini bukan berdasarkan kedekatan personal, melainkan fakta kinerja. Sekolah Rakyat yang digagas dan dijalankan oleh Toto Toharudin bukan hanya simbol, tetapi bukti konkret keberpihakan kepada masyarakat bawah.

Program itu menjadi ruang belajar alternatif bagi warga yang terpinggirkan oleh sistem formal sesuatu yang selaras dengan semangat Pendidikan untuk Semua.
Dalam pandangan saya, inilah bentuk pendidikan yang humanis dan membumi, sebagaimana nilai-nilai yang diusung Kang Dedi Mulyadi dalam filosofi Panca Waluya. Dan di tangan Toto, semangat itu hidup, bukan sekadar jargon.
Faktor lain yang tak kalah penting adalah hubungan personal dan profesional antara Toto Toharudin dan Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi.Hubungan ini bukan soal politik, melainkan soal pemahaman visi. KDM menggagas pendidikan berbasis karakter, budaya, dan kemandirian masyarakat. Toto mempraktikkannya dalam bentuk aksi sosial edukatif yang menyentuh langsung lapisan terbawah masyarakat.Sinergi semacam ini penting agar kebijakan pendidikan di Kuningan tetap selaras dengan arah pembangunan provinsi.
Sebagai pimpinan birokrasi yang tenang, komunikatif, dan matang dalam pengalaman, Toto Toharudin memahami kompleksitas organisasi besar seperti Dinas Pendidikan.
Ia tidak hanya memahami sistem birokrasi, tetapi juga memahami psikologi sosial para tenaga pendidik dan pegawai di bawahnya. Dalam konteks Kuningan, ini bukan perkara kecil karena Disdik adalah salah satu dinas dengan jumlah personel dan tanggung jawab terbesar..
Pada akhirnya, kepemimpinan di Dinas Pendidikan bukan semata tentang administrasi, tetapi tentang memelihara ruh perjuangan pendidikan Kuningan: dari semangat gotong royong, nilai Panca Waluya, hingga misi pemberdayaan warga belajar.
Jika U Kusmana memang naik menjadi Sekda, maka saya percaya Toto Toharudin adalah figur paling siap menjaga dan mengembangkan fondasi yang telah dibangun.
Karena pendidikan bukan sekadar urusan ruang kelas, tetapi urusan membangun manusia. Dan dalam hal ini, Toto telah memberi bukti bukan hanya janji.***












Tinggalkan Balasan