
VOXPOPULI.CO.ID – Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (PA GMNI) Kabupaten Kuningan menilai pemikiran Marhaenisme yang digagas Proklamator Republik Indonesia, Ir. Soekarno, masih relevan dijadikan arah pembangunan di tengah tantangan kemiskinan dan kesenjangan sosial yang masih dihadapi masyarakat.
Wakil Ketua PA GMNI Kabupaten Kuningan, Dadan Prasunardiansyah, mengatakan keberhasilan pembangunan tidak cukup diukur dari pertumbuhan ekonomi semata, tetapi juga harus dilihat dari sejauh mana kesejahteraan dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat.
Menurutnya, Marhaenisme lahir dari pemikiran Bung Karno setelah bertemu seorang petani kecil bernama Marhaen di Bandung. Dari pengalaman tersebut lahir konsep perjuangan yang berpihak kepada rakyat kecil dengan berlandaskan Sosio-Nasionalisme, Sosio-Demokrasi, dan Ketuhanan.
“Marhaenisme bukan sekadar konsep politik, tetapi merupakan gagasan sosial, ekonomi, dan kemanusiaan untuk mewujudkan masyarakat yang adil, makmur, dan terbebas dari segala bentuk penindasan,” ujar Dadan, Jumat (10/7/2026).
Ia menilai persoalan ketimpangan ekonomi yang masih terjadi di Indonesia, termasuk di Kabupaten Kuningan, menunjukkan nilai-nilai Marhaenisme masih memiliki relevansi dalam perumusan kebijakan pembangunan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Tahun 2025, persentase penduduk miskin di Kabupaten Kuningan pada Maret 2025 tercatat sebesar 10,74 persen atau sekitar 119.670 jiwa. Meski menurun dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 11,88 persen atau sekitar 131.830 jiwa, Kabupaten Kuningan masih berada di jajaran daerah dengan tingkat kemiskinan tertinggi di Jawa Barat.
Selain itu, garis kemiskinan berada pada angka Rp420.867 per kapita per bulan dengan indeks kedalaman kemiskinan sebesar 2,02 persen.
Dadan menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa kesenjangan ekonomi masih menjadi tantangan serius.
“Rakyat bekerja keras, namun belum sepenuhnya berdaulat atas hasil kerjanya. Kekayaan masih terkonsentrasi pada kelompok tertentu sehingga keadilan sosial belum sepenuhnya terwujud,” katanya.
Ia berpandangan semangat Marhaenisme dapat menjadi landasan moral bagi Pemerintah Kabupaten Kuningan di bawah kepemimpinan Bupati Dian Rachmat Yanuar dalam memperkuat ekonomi kerakyatan, melindungi usaha kecil, mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap tengkulak maupun dominasi modal besar, serta memastikan pembangunan berjalan sesuai rencana tata ruang daerah.
Dadan juga meminta pembangunan toko modern maupun kawasan industri dievaluasi secara cermat agar tidak mengurangi ruang hidup dan peluang usaha masyarakat lokal.
“Marhaenisme harus menjadi kompas pembangunan sehingga kemajuan Kuningan benar-benar dirasakan secara adil oleh seluruh masyarakat, bukan sekadar menjadi slogan,” pungkasnya.***












Tinggalkan Balasan