KUNINGAN (VOX) – Pembangunan jalan di kawasan Kampung Palutungan, Desa Cisantana, Kabupaten Kuningan, yang berada di kaki Gunung Ciremai, menuai kekhawatiran masyarakat. Proyek pembangunan dengan jalur berkelok tersebut dinilai berpotensi menimbulkan dampak lingkungan serius, terutama risiko longsor dan banjir bagi wilayah di bagian hilir.

Kekhawatiran ini juga disuarakan oleh mahasiswa asal Palutungan yang menilai bahwa kawasan tersebut merupakan daerah resapan air dengan kontur tanah yang labil dan memiliki fungsi ekologis penting.

Aktivitas pembukaan lahan dan penebangan pohon secara masif dikhawatirkan dapat mengganggu keseimbangan alam serta meningkatkan potensi bencana, khususnya saat musim hujan.

Mahasiswa asal Palutungan, Ade, menyampaikan bahwa keresahan ini bukan semata-mata penolakan terhadap pembangunan, melainkan bentuk kepedulian terhadap keselamatan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan.

“Sebagai mahasiswa yang lahir dan besar di Palutungan, saya merasa memiliki tanggung jawab moral untuk menyampaikan keresahan masyarakat. Kami tidak ingin warga yang tinggal di bawah kaki Gunung Ciremai harus menanggung risiko bencana akibat pembangunan yang kurang mempertimbangkan aspek lingkungan. Kita bisa belajar dari berbagai peristiwa di daerah lain, seperti di Sumatra, di mana kerusakan lingkungan berujung pada longsor dan banjir yang merugikan masyarakat luas,” ujar Ade.

Menurutnya, pembangunan di kawasan pegunungan semestinya dilakukan secara transparan dan berbasis kajian lingkungan yang matang. Keterbukaan informasi kepada masyarakat dinilai penting agar warga memahami arah pembangunan serta potensi dampak yang mungkin timbul di kemudian hari.

Selain itu, mahasiswa asal Palutungan juga mengajak masyarakat yang selama ini belum menyadari risiko lingkungan untuk mulai peduli dan berani bersuara. Kesadaran kolektif dinilai menjadi kunci agar pembangunan dapat berjalan selaras dengan prinsip keselamatan dan keberlanjutan lingkungan.

“Pembangunan tidak boleh hanya dilihat dari sisi infrastruktur, tetapi juga harus mempertimbangkan keselamatan masyarakat dan kelestarian alam. Suara masyarakat, termasuk mahasiswa, perlu didengar agar kebijakan yang diambil tidak menimbulkan masalah di masa depan,” tambahnya.

Isu pembangunan di kawasan Palutungan ini diharapkan dapat menjadi perhatian bersama, sehingga pemerintah dan pihak terkait dapat melakukan evaluasi serta memastikan bahwa pembangunan yang dilakukan tidak mengorbankan lingkungan dan keselamatan warga.***