KUNINGAN, (VOX) – Dua hari menjelang Bulan Suci Ramadhan, denyut aktivitas Pedagang Kaki Lima di kawasan Puspa Langlangbuana Ngahuleng justru melemah. Dari puluhan gerobak yang sempat berderet rapi saat penataan awal dilakukan, kini hanya tersisa tujuh pedagang yang masih konsisten membuka lapak.

Ketujuh PKL tersebut memilih bertahan dengan mematuhi aturan relokasi yang ditetapkan pemerintah daerah. Di sisi lain, sebagian pedagang lain disebut kembali berjualan di trotoar dan bahu Jalan Otista yang dianggap lebih strategis dan ramai pembeli.

Salah seorang pedagang yang ditemui Voxpopuli menuturkan, pada masa awal penataan, seluruh PKL sempat merasakan lonjakan omzet yang cukup signifikan.

“Awal-awal ramai sekali. Setelah penindakan pembeli berdatangan, suasana hidup,” ujarnya kepada vox Senin (16/02).

Namun, kondisi itu tidak berlangsung lama. Sekitar lima bulan berselang, satu per satu gerobak tutup. Dampaknya terasa langsung pada jumlah pengunjung yang kian menyusut.
Ia menceritakan, pernah ada rombongan mobil odong-odong berhenti untuk membeli jajanan.

Namun karena melihat banyak lapak dalam keadaan tutup, rombongan tersebut mengira kawasan itu sudah tidak aktif dan akhirnya pergi tanpa bertransaksi.

“Dikira sudah tidak ada yang jualan, padahal kami masih ada tujuh orang,” katanya.

Situasi semakin diperparah oleh kondisi sarana dan prasarana yang dinilai belum optimal.

Hari ini saja, atap lapak PKL di Puspa Langlangbuana terbang diterjang angin kencang. Peristiwa ini menambah beban pedagang yang sebelumnya telah mengeluhkan minimnya perawatan fasilitas.

“Kalau angin besar, kami waswas. Atap sudah ada yang lepas. Ini makin berat buat kami,” ungkap pedagang lainnya.

Para PKL juga mengakui kawasan tersebut sempat kembali ramai ketika ada kegiatan tertentu atau pemberian stimulan dari pihak terkait. Namun keramaian itu bersifat sementara. Setelah agenda selesai, kondisi kembali sepi.

Menjelang Ramadhan, para pedagang yang masih bertahan berharap ada langkah tegas dan adil terhadap pedagang yang kembali berjualan di trotoar. Mereka menilai ketidaktegasan penegakan aturan justru merugikan pihak yang patuh.

“Kami hanya ingin aturan ditegakkan sama rata. Kalau semua tertib, Langlangbuana bisa hidup lagi,” tegasnya.

Dengan menyisakan tujuh PKL yang masih bertahan, kondisi ini menjadi catatan penting bagi pemerintah daerah untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan penataan. Penegakan aturan yang konsisten serta perbaikan fasilitas dinilai menjadi kunci agar roda ekonomi pedagang kecil tetap berputar tanpa mengorbankan ketertiban dan estetika kota.***

Deskripsi Iklan Anda