VOXPOPULI.CO.ID – Curahan hati seorang istri yang diunggah melalui akun Instagram pribadinya, @tryulistiani, viral di media sosial. Dalam unggahannya, ia menceritakan perjalanan pengobatan sang suami yang berakhir meninggal dunia setelah sebelumnya didiagnosis menderita tuberkulosis (TB) kelenjar. Belakangan, hasil biopsi justru menyatakan suaminya mengidap limfoma.

Melalui rangkaian unggahan sebanyak 16 slide, perempuan tersebut mengaku ingin membagikan pengalaman pahit keluarganya agar tidak dialami orang lain.

Menurut pengunggah, seluruh perjalanan bermula pada awal Februari ketika suaminya menemukan benjolan di ketiak kanan. Setelah memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan tingkat pertama (faskes), pasien dirujuk ke dokter spesialis penyakit dalam di salah satu rumah sakit.

Namun, selama menjalani pemeriksaan dan kontrol, pengunggah mengaku dokter spesialis hanya melakukan tanya jawab tanpa pemeriksaan fisik terhadap benjolan yang dikeluhkan. Berdasarkan hasil laboratorium dan rontgen, pasien kemudian didiagnosis menderita TB kelenjar dan diberikan terapi obat anti tuberkulosis (OAT).

Seiring berjalannya waktu, kondisi pasien justru diklaim terus memburuk. Berat badan menurun drastis, tubuh melemah, hingga mengalami pembengkakan, kebas, dan kesemutan pada tangan.

Pada kontrol berikutnya, pengunggah juga mengaku suaminya diarahkan membeli obat OAT di klinik milik dokter yang menangani. Alasannya, obat OAT yang diperoleh melalui BPJS disebut tidak cocok untuk kondisi pasien.

“Kali ini suamiku disuruh membeli obat OAT di klinik beliau, alasannya katanya suamiku enggak cocok dengan obat OAT BPJS,” tulis pengunggah dalam unggahannya.

Tidak berhenti di situ, ketika keluarga menyampaikan keinginan agar pengobatan dilanjutkan di Bandung, pengunggah mengaku dokter tersebut menyampaikan bahwa pasien dipersilakan berobat di Bandung, sementara obat tetap dapat dikirim dari kliniknya dengan pembayaran melalui transfer.

Pernyataan itu membuat pengunggah mempertanyakan sikap dokter tersebut. Dalam unggahannya ia menulis, “Sejak kapan dokter jadi sales obat?”

Merasa tidak puas dengan perkembangan pengobatan, keluarga kemudian mencari pendapat dokter spesialis penyakit dalam lain di sebuah klinik. Berbeda dengan dokter sebelumnya, dokter tersebut disebut melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh dan menyarankan biopsi karena mencurigai adanya keganasan pada benjolan.

Keluarga kemudian berupaya meminta rujukan ke rumah sakit di Bandung. Setelah melalui proses administrasi, pasien akhirnya menjalani biopsi secara mandiri di RS Borromeus.

Hasil biopsi itulah yang kemudian mengubah diagnosis. Berdasarkan hasil pemeriksaan jaringan, pasien dinyatakan menderita limfoma, bukan TB kelenjar sebagaimana diagnosis sebelumnya.

Pengunggah mengaku sangat terpukul karena selama sekitar dua bulan suaminya mengonsumsi OAT berdasarkan diagnosis yang kemudian dinyatakan tidak sesuai.

Tak lama setelah diagnosis limfoma ditegakkan, kondisi pasien terus memburuk hingga akhirnya meninggal dunia.

Unggahan tersebut pun menuai perhatian luas warganet. Banyak yang menyampaikan belasungkawa, sementara sebagian lainnya meminta adanya evaluasi terhadap pelayanan kesehatan, termasuk dugaan salah diagnosis, dugaan tidak optimalnya pemeriksaan fisik, serta dugaan pasien diarahkan membeli obat di klinik pribadi dokter.

Voxpopuli.co.id membuka ruang hak jawab kepada dokter, rumah sakit, maupun pihak terkait yang disebut secara langsung maupun tidak langsung dalam pemberitaan ini. Hak jawab dan hak koreksi akan dimuat secara proporsional sesuai ketentuan Pasal 5 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik demi menjaga keberimbangan informasi.***