
KUNINGAN(VOX) – Pemerintah Kabupaten Kuningan mulai menggeser paradigma pengembangan desa wisata dari sekadar mengandalkan panorama alam menuju pariwisata berbasis cerita, budaya, dan keterlibatan masyarakat. Pendekatan ini ditegaskan Bupati Kuningan Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si. saat meninjau langsung Wisata Sukageuri, Desa Cisantana, Jumat (23/1/2026).
Kunjungan tersebut menjadi respons atas menurunnya aktivitas dan jumlah kunjungan wisatawan di destinasi yang sebelumnya dikenal sebagai salah satu ikon wisata alam Kuningan. Dalam dialog terbuka bersama perangkat desa, pengelola wisata, tokoh masyarakat, serta Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar), Bupati Dian menyerap langsung persoalan yang dihadapi warga.
Bupati Dian mengungkapkan keprihatinannya ketika mengetahui sebagian warga berada dalam dilema ekonomi. Menurunnya pendapatan dari sektor wisata membuat beberapa masyarakat mempertimbangkan kembali ke pekerjaan lama seperti penambangan batu.
“Saya prihatin. Wisata Sukageuri ini dulu menjadi kebanggaan, tapi sekarang kondisinya menurun. Padahal potensi Desa Cisantana sangat besar,” ujar Bupati Dian.
Menurutnya, kondisi tersebut tidak bisa dibiarkan berlarut-larut karena menyangkut keberlanjutan ekonomi dan lingkungan desa.

Dalam pandangannya, persaingan destinasi wisata saat ini menuntut desa wisata memiliki identitas yang kuat. Mengandalkan keindahan alam semata dinilai tidak lagi relevan, terlebih ketika banyak daerah lain menawarkan konsep serupa dengan dukungan modal besar.
“Kalau hanya menjual alam, kita akan kalah. Yang harus dijual adalah manusianya, kehangatan warganya, keasliannya, dan ceritanya,” tegasnya.
Bupati Dian menilai wisata berbasis pengalaman seperti tinggal di homestay, mengikuti aktivitas bertani, hingga mendengar kisah sejarah dan kehidupan desa lebih diminati wisatawan modern karena menghadirkan keterikatan emosional.
Ia mencontohkan sejumlah desa wisata di daerah lain yang mampu bertahan bahkan berkembang karena konsisten mengangkat kearifan lokal dan menjadikan warga sebagai aktor utama, bukan sekadar penonton.
“Wisata yang hidup adalah wisata yang melibatkan masyarakatnya. Ketika warga terlibat, dampak ekonominya juga akan dirasakan lebih luas,” kata Dian.
Menurutnya, pengelolaan wisata yang tepat dapat menggerakkan banyak sektor sekaligus, mulai dari UMKM, pertanian, jasa, hingga ekonomi kreatif.
Di akhir pertemuan, Bupati Dian menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten Kuningan untuk mendampingi proses kebangkitan Wisata Sukageuri secara berkelanjutan. Kehadirannya langsung ke lokasi disebut sebagai bentuk keseriusan pemerintah dalam mencari solusi bersama masyarakat.
“Saya datang ke sini sebagai tanda bahwa ini serius. Pemerintah tidak akan lepas tangan,” pungkasnya.***












Tinggalkan Balasan