VOXPOPULI.CO.ID – Arung Surakatiga ke-27 tahun 2026 akan kembali digelar di Winduhaji, Kabupaten Kuningan, pada 27 Oktober 2026. Tahun ini, Alan Suwgiri dipercaya menjadi Ketua Panitia Arung Surakatiga ke-27.

Perhelatan tahunan masyarakat Winduhaji tersebut tidak hanya menjadi ajang mengarungi sungai, tetapi juga menjadi momentum mempererat kebersamaan, menjaga tradisi, sekaligus mengenalkan potensi wisata sungai di Kabupaten Kuningan.

Momentum Arung Surakatiga ke-27 juga diwarnai pertemuan dua tokoh yang memiliki keterkaitan dengan Winduhaji, yakni Alan Suwgiri dan Muhammad Ridho Suganda.

Pertemuan keduanya menjadi bagian dari ruang kebersamaan masyarakat dalam menyambut pelaksanaan Arung Surakatiga tahun ini.

Alan Suwgiri tercatat mulai menjadi warga Winduhaji sejak 17 Agustus 2014. Hingga 11 Oktober 2026, ia telah menjalani kehidupan sebagai bagian dari masyarakat Winduhaji selama 12 tahun, 1 bulan, dan 24 hari.

Kepercayaan untuk menjadi Ketua Panitia Arung Surakatiga ke-27 dinilai menjadi amanah sekaligus kesempatan bagi Alan untuk ikut menggerakkan partisipasi masyarakat.

Dalam sambutannya, Alan mengibaratkan perjalanan selama 12 tahun tersebut sebagai proses menuju kedewasaan dan belajar memahami tanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat.

“Kalau diibaratkan manusia, 12 tahun itu usia akil baligh, usia beranjak remaja, usia di mana mulai mengerti arti tanggung jawab,” ujar Alan.

Menurutnya, penyelenggaraan Arung Surakatiga bukan hanya mengenai terlaksananya sebuah kegiatan tahunan. Lebih jauh, kegiatan tersebut menjadi ruang pembelajaran bersama untuk membangun kepercayaan, memperkuat persaudaraan, dan menjaga tradisi masyarakat.

Kehadiran Alan Suwgiri dan Muhammad Ridho Suganda dalam momentum Arung Surakatiga ke-27 memberikan warna tersendiri bagi kegiatan masyarakat Winduhaji.

Pertemuan tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan gagasan, memperkuat komunikasi, serta membangun semangat bersama bagi kemajuan masyarakat dan daerah.

Alan, melalui posisinya sebagai ketua panitia, berada di garis depan dalam menggerakkan masyarakat untuk menyukseskan kegiatan. Sementara nama Muhammad Ridho Suganda turut menjadi bagian dari momentum pertemuan tokoh yang memiliki keterkaitan dengan Winduhaji.

Arung Surakatiga pun tidak hanya menjadi kegiatan seremonial. Tradisi, budaya, wisata, pemberdayaan masyarakat, dan hubungan sosial dapat bertemu dalam satu momentum yang sama.

Kegiatan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa kemajuan daerah membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Perbedaan peran dan pengalaman dapat menjadi kekuatan apabila diarahkan untuk memperkuat komunikasi dan kepentingan bersama.

Dalam sambutannya, Alan Suwgiri juga menyampaikan filosofi arung jeram yang menurutnya memiliki kaitan erat dengan perjalanan kehidupan.

“Arung jeram yang ke-27 itu seperti hidup kita. Di hulu tenang, di tengah ada jeram, ada batu pusaran. Kalau kita panik, perahu terbalik; kalau kita kompak, saling percaya, kita akan sampai di akhir dengan selamat dan bahagia,” ungkapnya.

Ia kemudian menekankan pentingnya kebersamaan dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

“Hidup kudu babarengan, susah senang dipikul bareng. Selamat mengarungi jeram, basah itu biasa, bahagia itu luar biasa, jaga keselamatan,” sambung Alan.

Filosofi tersebut menggambarkan bahwa dalam arung jeram setiap anggota tim harus saling percaya dan memahami perannya. Kekompakan menjadi salah satu kunci agar perahu mampu melewati berbagai rintangan.

Nilai yang sama juga berlaku dalam kehidupan bermasyarakat. Persoalan akan lebih mudah dihadapi apabila komunikasi, gotong royong, dan kepentingan bersama menjadi dasar dalam mengambil langkah.

Arung Surakatiga ke-27 diharapkan tidak hanya menjadi agenda tahunan masyarakat Winduhaji, tetapi juga dapat menjadi bagian dari promosi potensi wisata sungai di Kabupaten Kuningan.

Kegiatan tersebut memiliki peluang untuk menggabungkan pelestarian tradisi, promosi wisata, pemberdayaan masyarakat, serta edukasi mengenai lingkungan.

Jika dikelola secara berkelanjutan, kegiatan seperti Arung Surakatiga dapat memberikan manfaat sosial sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat di sekitar lokasi kegiatan.

Namun, aspek keselamatan dan kelestarian lingkungan tetap menjadi hal penting yang harus diperhatikan.

Kebersihan sungai, pengelolaan sampah, penggunaan perlengkapan keselamatan, serta kepatuhan peserta terhadap arahan panitia menjadi bagian penting dalam pelaksanaan kegiatan.

Menjelang pelaksanaan Arung Surakatiga ke-27 pada 27 Oktober 2026, masyarakat diharapkan dapat menyambut kegiatan tersebut dengan semangat kebersamaan dan tanggung jawab.

Kepercayaan kepada Alan Suwgiri sebagai Ketua Panitia menjadi bagian dari perjalanan pengabdian sekaligus regenerasi dalam kehidupan masyarakat Winduhaji.

Sementara pertemuan Alan Suwgiri dan Muhammad Ridho Suganda dalam momentum Surakatiga memperlihatkan pentingnya ruang bersama bagi tokoh dan masyarakat untuk menjaga komunikasi serta membangun kepedulian terhadap daerah.

Pada akhirnya, Arung Surakatiga bukan sekadar tentang siapa yang memimpin atau seberapa jauh perahu mampu mengarungi jeram.

Kegiatan tersebut menjadi pengingat bahwa tradisi akan terus hidup ketika masyarakat bersama-sama menjaga, merawat, dan mewariskannya kepada generasi berikutnya.

Sebagaimana filosofi yang disampaikan Alan Suwgiri, perjalanan akan terasa lebih ringan ketika dijalani bersama.

Basah itu biasa, bahagia itu luar biasa. Hidup kudu babarengan. (Ugi)