VOXPOPULI.CO.ID – Keterangan berbeda muncul terkait kronologi peristiwa yang menimpa seorang siswa kelas VII SMPN Japara, Kabupaten Kuningan, Senin (12/10/2026). Wakil Kepala SMPN Japara, Wawan Kurniawan, menyebut kejadian tersebut bermula dari candaan antarsiswa. Sementara itu, Kepala Instalasi IGD RSUD Linggajati, dr. Agi, mengungkapkan bahwa berdasarkan pengakuan pasien saat pemeriksaan, siswa tersebut mengaku dipaksa meminum cairan oleh temannya.

Wawan Kurniawan menjelaskan, peristiwa tersebut terjadi ketika sejumlah siswa kelas VII sedang berkumpul menjelang waktu istirahat dan pembagian Makan Bergizi Gratis (MBG).

Menurut Wawan, para siswa saat itu sedang bercanda hingga terjadi kontak fisik antarteman.

“Karena suasananya memang mau istirahat, Pak, jadi mereka biasa lah bercanda mungkin anak-anak. Akhirnya sambil ada yang pukul-pukulan, nah itu enggak menimbulkan masalah, bercandaan biasa saja,” ujar Wawan.

Ia menjelaskan, dalam kegiatan tersebut terdapat seorang siswa yang melemparkan kemasan cairan pembersih lantai hingga mengenai beberapa temannya.

“Dan kebetulan ada yang si pelaku ini melemparkan sachet bungkusan sabun cair untuk lantai gitu. Dan itu kebetulan ada yang teman-temannya ada yang kena tangan, ada yang kena baju, dan yang anak korban ini mungkin ada yang kena muka gitu, terjilat atau gimana sehingga kejadian seperti ini,” jelasnya.

Menurut Wawan, peristiwa tersebut melibatkan dua siswa kelas VII yang merupakan teman sekelas. Jumlah siswa dalam kelas tersebut sekitar 35 orang.

Terkait penanganan kejadian, Wawan menjelaskan bahwa pihak sekolah telah mendatangi rumah sakit dan berkomunikasi dengan keluarga kedua siswa.

“Kami kemarin juga langsung kita datang ke rumah sakit, kemudian kita juga mengunjungi atau menemui kedua orang tuanya, baik itu yang terduga pelakunya, kemudian yang korban juga kita sudah hubungi dan insyaallah hari ini juga kita tindak lanjuti,” ujarnya.

Pihak sekolah juga merencanakan mediasi dengan melibatkan kedua keluarga.

“Dan rencananya kita memediasi, Pak, dengan kedua belah pihak, supaya masalah ini bisa diselesaikan,” lanjutnya.

Wawan menambahkan bahwa orang tua siswa yang diduga terlibat telah menyampaikan permohonan maaf secara lisan melalui komunikasi telepon.

Sementara itu, Kepala Instalasi IGD RSUD Linggajati, dr. Agi, ketika diwawancarai VOX di RSUD Linggajati, Selasa (13/10/2026), memberikan keterangan mengenai kondisi pasien saat mendapatkan penanganan medis.

Agi menjelaskan bahwa siswa tersebut tiba di IGD RSUD Linggajati pada Senin (12/10/2026) sekitar pukul 12.30 WIB setelah dirujuk oleh petugas Puskesmas Japara.

Saat tiba di rumah sakit, pasien mengalami muntah-muntah, tubuh lemas, dan sakit kepala.

“Terhadap kejadian kemarin, ada seorang pelajar datang diantar sama petugas puskesmas dari Japara, sekitar pukul jam 12.30. Datang dengan keluhan muntah-muntah, badannya lemas dan sakit kepala,” ujar Agi.

Dalam proses anamnesis atau penggalian riwayat kejadian, Agi menyebut pasien memberikan keterangan mengenai cairan yang diduga diminumnya.

“Dari hasil anamnesis, menurut anaknya, anaknya itu dikasih kayak semacam cairan tuh, Pak, dipaksa untuk diminum sama temannya. Pengakuan dari korbannya seperti itu,” ungkap Agi.

Agi menjelaskan bahwa kondisi pasien saat tiba di IGD relatif stabil berdasarkan pemeriksaan tanda-tanda vital, meskipun pasien terlihat lemas.

Tim medis kemudian melakukan pemeriksaan, pemasangan infus, serta tindakan pembilasan lambung.

“Kita dilakukan pemeriksaan, dilakukan tindakan pemasangan infus dan pembersihan untuk supaya si cairannya itu keluar. Dilakukan pembilasan lambung,” jelasnya.

Menurut Agi, pembilasan lambung dilakukan sebanyak dua kali selama pasien berada di IGD.

“Untuk di IGD kita dicoba dua kali, Pak. Dua kali melakukan pencucian, bilas lambung,” katanya.

Ketika ditanya mengenai perkiraan volume cairan yang diduga tertelan, Agi menyebut berdasarkan pengakuan pasien jumlahnya sekitar 20 hingga 30 mililiter.

Namun, Agi menjelaskan bahwa pihak medis tidak dapat memastikan volume cairan tersebut berdasarkan hasil pembilasan lambung karena telah bercampur dengan cairan yang digunakan dalam tindakan medis.

Setelah mendapatkan penanganan di IGD, kondisi pasien dinyatakan stabil dan selanjutnya dipindahkan ke ruang perawatan untuk menjalani observasi.

“Di IGD dilakukan dua kali karena kondisinya udah agak stabil, kita masukkan ke dalam ruangan untuk diobservasi selanjutnya,” ujarnya.

Berdasarkan keterangan kedua narasumber, terdapat perbedaan mengenai kronologi masuknya cairan ke tubuh siswa.

Wawan Kurniawan menyampaikan bahwa cairan pembersih lantai diduga mengenai wajah siswa saat terjadi candaan antar siswa. Sementara itu, dr. Agi menyampaikan bahwa berdasarkan hasil anamnesis, pasien mengaku dipaksa meminum cairan yang disebut seperti Soffel oleh temannya.

Hingga berita ini disusun, VOX belum memperoleh hasil pemeriksaan yang memastikan jenis cairan maupun kesimpulan resmi mengenai ada atau tidaknya unsur pemaksaan dalam kejadian tersebut.

Pihak sekolah menyatakan akan menindaklanjuti peristiwa tersebut melalui komunikasi dan mediasi dengan keluarga kedua siswa.***