
VOXPOPULI.CO.ID – Penolakan terhadap rencana pengembangan geothermal di kawasan Gunung Ciremai kembali ditegaskan Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (PA GMNI) Kuningan.
Ketua Harian PA GMNI Kuningan, Ismah Winartono, mengatakan sikap penolakan tersebut bukan merupakan reaksi spontan terhadap perkembangan terbaru. Menurutnya, penolakan masyarakat terhadap rencana geothermal Ciremai telah berlangsung selama bertahun-tahun.
“Penolakan terhadap geothermal di Ciremai sudah berjalan bertahun-tahun. Ini bukan isu yang baru muncul hari ini. Ada suara, kekhawatiran, dan perjuangan masyarakat yang harus dihormati,” tegas Ismah kepada vox, Sabtu (05/09).
Ia meminta masyarakat Kuningan tetap waspada dan tidak lengah dalam mengikuti setiap perkembangan terkait rencana geothermal. Ismah menilai perubahan narasi, istilah, maupun pendekatan dalam sebuah proyek tidak seharusnya membuat masyarakat mengabaikan potensi dampak terhadap lingkungan dan ruang hidup.
Menurut Ismah, pembahasan mengenai geothermal tidak cukup hanya dilihat dari perspektif kebutuhan energi. Setiap rencana pengembangan harus mempertimbangkan secara menyeluruh risiko ekologis, keselamatan masyarakat, serta manfaat yang akan diterima warga.

Sorotan juga diarahkan terhadap penggunaan istilah energi hijau yang menurutnya tidak boleh secara otomatis menjadi pembenaran terhadap suatu proyek.
“Jangan sampai istilah energi hijau justru digunakan untuk membungkus kepentingan eksploitasi. Kita harus melihat secara utuh: apa risikonya, siapa yang menanggung dampaknya, dan apakah masyarakat benar-benar mendapatkan jaminan keselamatan serta manfaat yang adil,” ujarnya.
Ismah menegaskan Gunung Ciremai memiliki posisi yang jauh lebih penting bagi masyarakat Kuningan dibanding sekadar potensi sumber energi. Kawasan tersebut dinilai berkaitan erat dengan ekosistem dan kehidupan masyarakat di sekitarnya.
“Ciremai bukan sekadar sumber energi. Ciremai adalah ruang hidup. Karena itu, jangan pernah meminta masyarakat diam ketika ruang hidupnya dipertaruhkan,” kata Ismah.
PA GMNI Kuningan, lanjutnya, mendorong agar setiap kebijakan yang berkaitan dengan kawasan Ciremai menempatkan keselamatan ekologis dan kepentingan masyarakat sebagai pertimbangan utama.
Ia juga mengajak masyarakat, organisasi kemasyarakatan, kelompok pemuda, akademisi, serta berbagai elemen lainnya untuk aktif mengawal informasi dan proses kebijakan terkait rencana geothermal.
Menurut Ismah, keterbukaan informasi menjadi penting agar masyarakat dapat mengetahui secara jelas setiap tahapan kebijakan maupun rencana pengembangan yang berkaitan dengan Ciremai.
“Masyarakat jangan lengah. Perjuangan ini belum selesai. Kawal terus setiap prosesnya, buka informasinya, dan jangan biarkan suara masyarakat kembali diabaikan,” pungkasnya.
PA GMNI Kuningan menegaskan bahwa sikap tersebut merupakan bagian dari dorongan agar kebijakan mengenai Gunung Ciremai tidak hanya mempertimbangkan aspek energi dan ekonomi, tetapi juga keberlanjutan lingkungan serta kepentingan masyarakat yang hidup di sekitarnya.***









Tinggalkan Balasan