
VOXPOPULI.CO.ID – Kebebasan menyampaikan pendapat di muka umum merupakan hak konstitusional setiap warga negara yang dijamin dalam sistem demokrasi. Namun, pelaksanaan hak tersebut juga harus dibarengi dengan tanggung jawab moral, etika, serta penghormatan terhadap martabat sesama warga negara.
Pandangan tersebut disampaikan oleh Maya Primayantie, ST, MT, M.Si, yang menyoroti penggunaan atribut berupa celana dalam perempuan dalam sebuah aksi demonstrasi. Menurutnya, penggunaan simbol tersebut tidak tepat dan berpotensi menimbulkan kesan pelecehan terhadap perempuan.
Maya menilai bahwa atribut pribadi perempuan tidak seharusnya dijadikan alat atau simbol untuk menarik perhatian publik dalam sebuah aksi unjuk rasa. Selain dapat menimbulkan rasa tidak nyaman, penggunaan simbol tersebut juga berisiko melukai nilai-nilai penghormatan terhadap perempuan.
“Penggunaan atribut berupa celana dalam perempuan dalam sebuah aksi demonstrasi dapat dipandang sebagai tindakan yang tidak pantas dan berpotensi melecehkan martabat perempuan. Simbol tersebut dapat menimbulkan kesan bahwa tubuh dan atribut pribadi perempuan dijadikan alat untuk menarik perhatian atau menyampaikan pesan,” ujarnya, Senin (22/06).
Ia menegaskan bahwa kritik terhadap kebijakan publik maupun penyampaian aspirasi masyarakat tetap dapat dilakukan secara tegas tanpa harus menggunakan simbol-simbol yang berpotensi merendahkan kelompok tertentu.

Menurut Maya, demonstrasi yang baik adalah demonstrasi yang berfokus pada substansi tuntutan, menggunakan bahasa yang santun, serta mengedepankan argumentasi yang kuat. Cara tersebut dinilai lebih efektif dalam membangun dialog publik sekaligus menjaga kualitas demokrasi.
“Kritik dan aspirasi dapat disampaikan dengan cara-cara yang lebih bermartabat, beradab, dan substansial. Demonstrasi yang baik adalah demonstrasi yang fokus pada isi tuntutan, menggunakan bahasa yang santun, serta mengedepankan argumentasi yang kuat tanpa menggunakan simbol-simbol yang berpotensi merendahkan atau menyinggung kelompok tertentu,” katanya.
Lebih lanjut, Maya mengajak seluruh elemen masyarakat yang hendak melakukan aksi demonstrasi untuk tetap menjaga ketertiban dan tanggung jawab sosial. Menurutnya, kebebasan berekspresi harus berjalan seiring dengan penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan kesetaraan.
Ia berharap para peserta aksi dapat menunjukkan kedewasaan dalam berdemokrasi dengan mengedepankan perjuangan intelektual dan moral, bukan sekadar mencari perhatian melalui simbol-simbol kontroversial.
“Silakan menyampaikan aspirasi dan melakukan aksi demonstrasi dengan baik, tertib, dan penuh tanggung jawab. Tidak perlu menggunakan atribut seperti celana dalam perempuan untuk menarik perhatian. Tunjukkan bahwa demonstrasi adalah sarana perjuangan intelektual dan moral yang mencerminkan kedewasaan dalam berdemokrasi, sekaligus tetap menghormati harkat dan martabat perempuan,” pungkasnya.***









Tinggalkan Balasan