
KUNINGAN, (VOX) – Rencana Pemerintah Kabupaten Kuningan untuk menggelar program Car Free Night di kawasan pertokoan Jalan Siliwangi usai Idulfitri 2026 memantik beragam tanggapan dari masyarakat di media sosial.
Program yang disampaikan langsung oleh Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar tersebut disebut sebagai upaya menghadirkan ruang publik malam hari sekaligus mendorong aktivitas ekonomi masyarakat.
Namun di ruang komentar media sosial, sejumlah warganet memberikan pandangan yang beragam terhadap rencana tersebut.
Salah seorang warganet, Denmas Harijanto, menilai konsep Car Free Night pada dasarnya memiliki potensi dampak positif bagi masyarakat, terutama dalam menggerakkan sektor ekonomi kecil.
“Kebijakan Car Free Night oleh Pemda di Kabupaten Kuningan pada dasarnya mirip dengan konsep Car Free Day, hanya saja dilakukan pada malam hari,” tulisnya dalam kolom komentar.

Menurutnya, kegiatan tersebut dapat mendorong perputaran ekonomi pelaku usaha kecil dan menengah yang beroperasi pada malam hari.
“CFN biasanya membuat banyak orang datang untuk jalan-jalan, kuliner, atau hiburan. Ini bisa membantu pedagang kaki lima, kafe, dan UMKM lokal meningkatkan pendapatan,” ujarnya.
Selain itu, ia juga menilai kegiatan tersebut berpotensi menciptakan ruang publik yang lebih ramah bagi masyarakat.
“Masyarakat bisa berjalan kaki, olahraga ringan, atau berkumpul dengan keluarga tanpa gangguan kendaraan,” katanya.
Ia menambahkan bahwa meskipun hanya berlangsung beberapa jam, penutupan jalan dari kendaraan juga dapat memberikan dampak terhadap pengurangan polusi udara dan kebisingan di kawasan tersebut.
Tidak hanya itu, Car Free Night juga dinilai berpotensi menjadi daya tarik wisata malam di Kabupaten Kuningan jika dikelola dengan baik.
“CFN bisa jadi daya tarik wisata malam di Kuningan, misalnya dengan musik jalanan, pertunjukan seni, atau bazar,” ungkapnya.
Meski demikian, ia juga mengingatkan adanya sejumlah tantangan yang perlu diperhatikan oleh pemerintah daerah sebelum kebijakan tersebut diterapkan.
Salah satu yang menjadi sorotan adalah potensi kemacetan di ruas jalan lain akibat penutupan akses kendaraan di kawasan Siliwangi.
“Penutupan jalan tertentu bisa memindahkan kemacetan ke ruas jalan lain jika tidak ada rekayasa lalu lintas yang baik,” tulisnya.
Selain itu, persoalan kebersihan juga menjadi perhatian, mengingat kegiatan keramaian seringkali meninggalkan sampah jika tidak diikuti dengan sistem pengelolaan yang memadai.
Ia juga menyoroti aspek keamanan dan ketertiban yang perlu dijaga agar kegiatan tersebut tetap nyaman bagi masyarakat.
“Keramaian malam perlu pengawasan keamanan supaya tetap nyaman bagi keluarga,” pungkasnya.
Hal lain yang tidak kalah penting adalah potensi parkir liar yang bisa muncul jika jumlah pengunjung meningkat tanpa diimbangi dengan ketersediaan area parkir yang cukup.
Secara keseluruhan, warganet menilai Car Free Night dapat menjadi kebijakan positif bagi ruang publik dan ekonomi lokal, namun keberhasilannya sangat bergantung pada kesiapan pemerintah daerah dalam mengatur lalu lintas, keamanan, serta kebersihan selama kegiatan berlangsung.***









Tinggalkan Balasan