KUNINGAN, (VOX) – Pemasok berinisial IW mengaku menjadi korban dugaan penipuan dalam pengadaan susu kotak untuk kebutuhan Program Makan Bergizi Gratis di Kabupaten Kuningan. Kerugian yang dialaminya mencapai Rp113 juta setelah barang yang dijanjikan tidak pernah diterima, meski proses pengiriman sempat terlihat berjalan.

IW menjelaskan, kasus tersebut bermula ketika dirinya mendapatkan pesanan untuk menyuplai ribuan susu kotak full cream ke beberapa Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi di Kabupaten Kuningan. Untuk memenuhi permintaan itu, IW meminta bantuan kepada rekannya berinisial AI.

“AI menyampaikan sanggup menyediakan barang sesuai jumlah yang dibutuhkan. Ia mengatakan memiliki saudara yang memiliki stok susu kotak tersebut,” ujar IW.

Berdasarkan kesepakatan, IW mentransfer dana sebesar Rp113 juta kepada AI. Pengiriman dijanjikan menggunakan truk dan akan tiba di Kuningan pada Minggu malam, 25 Januari 2026.

Pantauan lapangan yang dilakukan Vox membenarkan bahwa sebuah mobil truk fuso berwarna kuning memang datang ke lokasi tujuan. AI juga terlihat telah berada di lokasi saat kendaraan tersebut tiba. Namun, truk tersebut tidak membawa muatan susu sebagaimana dijanjikan.

Menurut keterangan AI kepada Vox, informasi ketersediaan susu awalnya ia peroleh dari saudaranya. Namun dalam praktiknya, pembelian susu tersebut ternyata dilakukan saudaranya melalui seorang kenalan yang dikenalnya lewat media sosial Facebook.

Keterangan tersebut sejalan dengan pengakuan sopir truk. Kepada Vox, sopir mengaku dihubungi oleh seseorang yang dikenalnya melalui Facebook. Ia menyebut telah menunggu selama tiga hari di wilayah Plumbon tanpa membawa muatan apa pun.

“Saya nunggu tiga hari di Plumbon, tidak ada muatan. Terus ada yang menghubungi lagi, disuruh ke Kuningan untuk ambil sembako, ya kita ambil lumayan untuk ongkos pulang,” ujar sopir truk asal jatim tersebut.

Fakta tersebut memperkuat keterangan IW yang menyebut bahwa pada saat kedatangan kendaraan, tidak ada satu pun susu kotak yang dibawa.

“Supirnya bilang tidak membawa susu apa pun. Dia justru diperintah untuk mengambil barang, bukan mengantar,” kata IW.

Pasca kejadian itu, IW mengaku masih dapat berkomunikasi dengan AI. Namun penjelasan yang diterima awalnya dinilai tidak konsisten dan tidak memberikan kepastian terkait barang maupun dana yang telah ditransfer.

“Masih bisa dihubungi, tapi jawabannya selalu berubah-ubah,” ungkap IW.

Perkembangan terbaru, IW menyampaikan bahwa AI telah mengembalikan seluruh kerugian yang dialaminya. Pengembalian dana tersebut, menurut IW, dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab AI atas kelalaian yang terjadi dalam proses pengadaan.

Meski kerugian telah dikembalikan, IW menilai peristiwa ini menjadi pelajaran penting terkait kerentanan proses pengadaan logistik Program Makan Bergizi Gratis, terutama ketika transaksi dilakukan melalui jejaring informal tanpa verifikasi yang memadai.

Hingga berita ini diturunkan, pihak kepolisian belum menyampaikan keterangan resmi ke publik terkait laporan yang sempat dibuat. Proses pendalaman masih dilakukan untuk memastikan tidak adanya pihak lain yang dirugikan dalam rangkaian peristiwa tersebut.***